Selasa, 13 Februari 2018

Indonesia Butuh Habib Rizieq, Kita Semua Harus Ikut Jemput


Indonesia sebagai alternatif dunia mencari referensi perdamaian. Dan peran Indonesia yang aktif dalam perdamaian dunia secara langsung, telah menjelaskan kepada dunia, bahwa Indonesia adalah Ibunya peradaban dunia. Makanya tidak ada agama "langit" yang turun di Nusantara, kini Indonesia.

Bukan tanpa hikmah, mengapa agama langit tidak diturunkan tuhan di Nusantara. Tidak lain, karena leluhur kita telah menjadi manusia paripurna, maka bagi tuhan dipandang tidak perlu, agama diturunkan di sini. Sejarah turunnya semua agama langit, adalah sama. Ketika lingkungan sosial politik sangat tidak baik. Jahiliyah istilahnya.


Maka kita harus memandang sangat perlu, kalau Indonesia hari ini, pewaris leluhur yang besar, pewaris Ibu nya peradaban dunia, untuk menyegerakan resolusi-resoluis perdamaian baik di dalam terlebih untuk keluar dan dipandang ada bagi dunia.

Sebelum persitiwa 212, mau tidak mau, kita harus mengiyakan kalau, sudah lama bangsa inidan tidak berantem sendiri, sejak setelah G30S/PKI, iya kan? Dan begitulah roda perjalanan sekarah bangsa ini tetap berputar, sama persis.

Ditengah geliat negara dan pemerintah, berusaha mewujudkan cita-cita kemerdekaan Bangsa Indonesia, pada periode Presiden hari ini. Nyatanya tanda-tanda gejolak zaman, perlahan masuk pada fase pertikaian dI antara sesama anak bangsa.

Dimulai dengan 212, yang jelas terasa sampai ke pelosok desa, dan menjadi bahan "diskusi" ibu-ibu di warung-warung sayuran. Sampai pada aksi teror tempat ibadah di mana-mana, dengan munuduhkan bahwa pelakunya adalah orang gila.

Mengapa orang gila? Pernah salah satu penulis seword menuliskannya, saya lupa judulnya apa, tapi pada intinya hanya ingin mengatakan, kalau orang gila itu ada yang mengorganisir, kemudian menunggangi-menunggangi.

Saya jadi ingat, cerita salah seorang sahabat saya, kalau dia punya seorang teman di kampungnya, yang alumni Menur, Rumah Sakit Jiwa di Surabaya. Temannya itu, beberapa kali berbuat "kriminal" hanya ketika pihak polisi memprosesnya, dia menunjukkan "sertifikat" gila dari Menur. Lhaa padahal, kesehariannya yaa seperti orang-orang pada umumnya.

Memang sesekali dia berkelakuan aneh, tapi sebenarnya dia juga menyadari kelakuannya itu. Pada kondisi yang memungkinkan, karena rasa penasaran seorang sahabat saya itu tadi, memberanikan diri menghampiri temannya alumni Menur tersebut.

Kemudian bertanya, "Kamu ini sudah sembuh beneran nggak sih"

"Kalau ndak sembuh, mengapa RSJ mengembalikan saya pulang" jawab temannya.

"Enak yaa jadi kamu, sadar melakukan apapun, tapi giliran terkena pelanggaran, kamu selalu lolos karena sertifikatmu"


"Hahahahaha, pengen? ayo tak pondokkan di Menur, jadi juniorku"

Memang bukan hal baru, mengapa fenomena, persekusi rumah ibadah di Yogyakarta kemarin, ditengarai pelakunya adalah orang gila. Dan satu lagi, ada juga kejadian yang sama di Tuban. Orang gila juga.


Ada hal aneh di sini menurut saya. Mengapa menggunakan orang gila, para play maker itu? Atau memang bukan orang gila, tapi ketika melakukan kejahatan itu mengaku tidak sadar, gila?

Masih ingatkan, anda dengan orang yang diantarkan ke rumah sakit jiwa, ketika dia berhalusinasi menjadi mujahid khilafah tempo hari? Bagai saya, ini semua bukan murni orang gila, tapi memang ada yang benar-benar membuat mereka gila dan seakan-akan gila, kalau sudah ketahuan.

Ada kemungkinan-kemungkinan "keluaran" tentang itu, tapi saya tidak akan menilai orang gila itu, tapi saya akan memungkasi artikel ini dengan, mengapa orang gila?

Bahwa ini semua adalah bagian dari gerakan-gerakan yang telah disusun secara tersistem, rapi dan terorganisir. Lantas mengapa harus menggunakan orang gila?

Ketika suatu organisasi sudah kehilangan kepalanya, maka semua gerakan dan intruksi yang ada menjadi samar-samar tak menentu arah. Jika ingin tetap dipandang ada eksistensinya, yaa jelas harus bikin goro-goro, yang "seakan-akan".

Lihat saja, ketika Habib Rizieq sebagai imam besarnya, tercap sebagai pemimpin yang pengecut, selain disinstruksi dan kehilangan tokoh utamanya, barisannya juga terpecah belah. Hal itu sangat tidak baik jika tetap dibiarkan.

Melihat kenyataan bahwa segala perpecahan yang ada pada kelompok mereka, berawal dari kepergian si mujahid pengecut itu, maka jalan satu-satunya yaa menjemputnya pulang.

Maka bagi kita, untuk menyelamatkan bangsa dari teror orang gila, lebih baik kita juga ikut senang dan bila punya uang ikut menjemput Habib Rizieq juga, jangan hanya kelompok mereka sendiri yang menjemput.

Dengan begitu, kesucian dan kemuliaan identitas orang gila, tidak mereka tunggangi lagi. Dan membantu mereka untuk menjadi mujahid, yang kesatria. Tidak kaburan, tidak pakai akun anonim dan tidak bersembunyi di ketiak pelacur.



Kamis, 08 Februari 2018

VIDEO VIRAL!!! Fredrich Yunadi: Jaksa KPK Tukang Tipu, Anak Muda Kemarin Sore








JAKARTA, KOMPAS.com — Advokat Fredrich Yunadi membantah disebut menghalangi penyidikan seperti yang didakwakan kepadanya oleh jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Fredrich justru berbalik menyebut jaksa KPK telah melakukan kebohongan.

Hal itu dikatakan Fredrich seusai sidang pembacaan surat dakwaan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis (8/2/2018).

"Jaksa KPK itu tukang tipu. Mereka itu anak-anak muda kemarin sore yang membuat skenario," ujar Fredrich.

Dalam dakwaan, Fredrich disebut merekayasa agar Setya Novantodirawat inap di Rumah Sakit Medika Permata Hijau. Fredrich diduga sudah memesan kamar pasien terlebih dahulu sebelum Novanto mengalami kecelakaan.

Menurut jaksa, Fredrich juga meminta dokter RS Permata Hijau untuk merekayasa data medis Setya Novanto. Upaya itu diduga dilakukan dalam rangka menghindari pemeriksaan oleh penyidik KPK.

"Yang jelas, (Novanto) dipindahkan ke RSCM atas permintaan dari KPK. Kalian tahu kan di RSCM dirawat tiga hari. Kalau memang itu ringan, seharusnya begitu sampai, diperiksa, dokter pasti bilang, kau pulang saja, kau tidak sakit, tidak apa-apa," kata Fredrich.




Rabu, 07 Februari 2018

HEBOH VIRAL!!! Moeldoko Bungkam Zaadit CS Dengan Pencapaian Jokowi, Maju Terus Pak Moel!






Tanggapan Moeldoko sebagai mantan mahasiswa UI mengenai aksi kartu kuning adalah "biasa saja". KSP alias kepalas staf kepresidenan ini seolah sedang menertawakan aksi Zaadit. Moeldoko menganggap ada kekurangan dari informasi yang penuh pemerintahan Joko Widodo. Pak Moeldoko berikan sejumput paparan informasi yang dikerjakan oleh Joko Widodo. Apakah “sejumput” pencapaian Jokowi-JK dalam tiga tahun pemerintahannya, yang membuat mata kita sedikit lebih terbuka?


Dalam tiga tahun saja, presiden Joko Widodo bisa bangun ribuan kilometer jalan.

Kuota haji hanya dalam 3 tahun, bisa dinaikkan dari 168 ribu jadi 221 ribu.

Dana desa tahun 2012 20,8T, 2016 46,9 T, 2017 60 T. Kurang apa lagi?

Kartu Indonesia Sehat alias KIS dari 2015 20,3 T, meningkat jadi 25 Triliun di 2017.

Program keluarga harapan, 6,4 T jadi 11,3 T di 2017.

Kartu Indonesia Pintar alias KIP juga mengalami kenaikan yang ada.

Reformasi agraria dalam tempo singkat, presiden bisa sediakan 1,4 juta sertifikat.

Nikmat apa lagi yang kau dustakan?

Dari sejumput paparan informasi tersebut, rasanya banyak orang yang benar-benar mengakui bahwa Joko Widodo berhasil membangun indonesia. Ini adalah sebuah pembahasan yang luar biasa jelas dari kepala staf kepresidenan.


Namun ada saja ketua BEM dari ITB yang mengkritik Adian Napitupulu yang mengatakan “harus ada legitimasi moral dalam berpendapat”. Nah. Bagi saya, ITB mulai sebelas duabelas dengan UI. Mahasiswa yang terlalu banyak berteori. Live in yang dianggap tidak memperkuat legitimasi moral, justru semakin membuat Adian Napitupulu berada di atas mereka. Mereka jelas-jelas mulai melarikan diri dari realita.

Bahkan pihak UI menyesalkan kejadian BEM UI itu. Interupsi yang dilakukan Zaadit menjadi sebuah hal yang tidak jelas dan tidak pantas dilakukan. Apalagi sudah diagendakan. Jadi sebenarnya jauh lebih baik jika hal tersebut disampaikan setelah pertemuan. Apakah siswa dimanfaatkan atau memanfaatkan?

Najwa mempertanyakan bahwa Desmond dari F-Gerindra, apakah momen mahasiswa ini dimanfaatkan oleh Gerindra atau yang lain? Fadli Zon sebagai kader partai, membuat sajak peluit pun dianggap sebagai individu.

Moeldoko tidak bisa membangun sebuah negara yang begitu besar seperti seolah-olah membalikkan tangan. Semua punya tahapan yang jelas dan konkrit. Moeldoko mengajak kita melihat data, harus ada imajinasi yang kosong. Kemampuan untuk memahami apa yang dikerjakan oleh orang lain harus dilakukan.

Perwakilan Trisakti pun mengakui bahwa media pun tidak menjadi sebuah data valid yang bisa diambil. Dari sini kita melihat bahwa Trisakti pun memberikan tekanan kepada BEM UI, Zaadit. Adian Napitupulu pun mengajarkan bahwa mahasiswa yang harus lahir dari rahim rakyat. Sekarang jadi debatable. Kartu kuning itu legitimasinya kapan? Perjuangan itu bukan dari fasilitas negara!
Plak!

Presiden Joko Widodo pun menganggap hal ini biasa saja, dan mungkin akan mengajak Zaadit ke Asmat. BEM UI mengadakan penggalangan dana, SETELAH di-skakmat oleh Joko Widodo. Rencana ke Asmat kabarnya sudah menjadi rencana yang belum dikerjakan. Namanya saja idealisme mahasiswa, menolak ya menolak. Tanpa adanya sebuah kejelasan, itulah mahasiswa.

Acara mata Najwa ini benar-benar menguliti habis apa yang menjadi idealisme Zaadit. Sampai saat ini kita melihat bagaimana Moeldoko benar-benar dengan data mengatakan hal tersebut dengan jelas. Tepat kata Adian, tanpa adanya sebuah “konteks”, teori tersebut tidak ada legitimasi moral yang jelas. Mengapa saya bisa mengatakan bahwa Adian ini cerdas? Jelas karena ia benar-benar lahir dari rahim bangsa. Inilah yang menjadi semangat kaum mahasiswa zaman old.

Mahasiswa saat ini sudah terlalu nyaman dengan apa yang ada di depan mata, sehingga Zaadit sendiri pun hanya bisa mengeluarkan teori-teori tidak jelas. Asmat, menjadi polemik yang ditunggangi oleh politisi-politisi dan para elit busuk yang ada di Indonesia.

Zaadit membiarkan punggungnya menjadi tumpuan para politisi busuk dan gerombolan si berat yang ingin menjatuhkan presiden Joko Widodo. Buka matamu, hai mahasiswa! Jangan ingin ditunggangi oleh siapapun, termasuk politisi busuk yang ada!

Betul kan yang saya katakan?



Selasa, 06 Februari 2018

HEBOH!!! Satu Tahun Bui dan Denda 500 Juta Rupiah untuk Nenek Asyani





Dunia mungkin sudah mendekati akhir usia. Banyak hal yang secara logika waras yang seharusnya tidak perlu terjadi malah dipraktekkan secara telanjang di depan kita. Rasa keadilan publik kini terabaikan oleh nurani yang semakin tumpul. Atas nama bunyi teks harafiah undang-undang yang diterjemahkan secara rigid, para pemilik palu keadilan, ‘hakim yang mulia’, sampai pada suatu kesimpulan bahwa tujuh potong kayu jati harus ditebus dengan satu tahun penjara dan denda uang 500 juta rupiah. Sebuah harga yang sangat fantastis untuk tujuh potong kayu jati. Satu tahun dan 500 juta rupiah bagi seorang nenek renta, Nenek Asyani. Jangankan pernah memegangnya, untuk membayangkan nilai uangnya saja, Nenek Asyani tidak pernah terlintas.

Sungguh sebuah ironi keadilan yang dengan keras telah menampar wajah kita semua, anak negeri ini yang masih cinta pada kebenaran dan keluhuran nurani. Di tengah gegap gempita pidato Presiden Jokowi berteriak mengajak negara-negara Asia Afrika agar bersama-sama melawan ketidakadilan dunia, ternyata di “emperan rumah” di depan mata kita, masih menyaksikan paradoksal yang menyayat hati. Seorang nenek uzur, yang seharusnya di sisa-sisa usia yang semakin mendekati titik finis, bertafakkur sambil menyibukkan diri dengan memperbanyak menyebut asma Allah SWT sebagai wujud pengabdiannya sebagai abduh, Nenek Asyani malah mendapati kenyataan hidupnya demikian pahit dan sangat getir. Kenyataan mana, bukan atas kemauan dan kesadaran personal, tetapi lebih pada faktor eksternal, atas nama penegakkan hukum dan ambisi para pemilik modal. Dan pemilik modal itu, adalah PT. Perhutani, yang nota bene adalah corporate (perusahaan) plat merah. Karena sebagai sebuah corporate, mestinya punya kewajiban sosial untuk “menghidupi” masyarakat di sekitarnya. Alih-alih menunjukkan kewajiban sosial, yang antara lain “mengkompensasi” melalui dana corporate social responsibilty (CSR), malah menunjukkan arogansi tanpa nalar.

Apakah hukum dan penegakkan hukum itu, semata-mata bunyi teks tertulis pasal-pasal dalam undang-undang secara an sich? Tidakkah dalam bunyi teks undang-undang di samping mengandung makna eksplisit, juga memuat makna implisit? Bukankah dalam kandungan makna implisit itu para pemegang palu keadilan harus pula dengan sungguh-sungguh mencari dan menggali makna hakiki rasa keadilan (masyarakat)?

Suka atau tidak suka, kita harus mengakui fakta bahwa pada bagian lain dari parade penegakkan hukum negeri ini, tidak berlaku posisi simetris antara satu kasus hukum dengan kasus hukum lainnya. Jika seorang nenek uzur, kalau pun itu terbukti mengambil tanpa hak, beberapa potong kayu (jati) dan diberi ganjaran demikian “berat” (dilihat dari faktor usia dan kemampuan finansial), pada kasus-kasus yang lebih “mencengangkan” malah berakhir dengan antiklimaks. Para bandar narkoba dan koruptor masih bisa ternyum lega sambil ketawa-ketiwi di depan publik setelah divonis. Sementara Nenek Asyani, harus berteriak histeris di depan ‘hakim yang mulia’ semata-mata ingin menyatakan (memang) ia tidak bersalah. Dan tidak ada seorang pun yang peduli, kecuali pengacaranya (mungkin?), apalagi negara. Tapi sebaliknya, hal itu tidak berlaku bagi para bandar narkoba dan koruptor.

Bahkan pada kelompok kedua ini, khususnya bandar narkoba, meski telah membuat kesengsaraan yang bersifat struktural, tokh masih banyak kelompok-kelompok dari anak negeri ini, berteriak dengan lantang atas nama hak asasi manusia (HAM) menentang hukuman mati. Mereka begitu peduli terhadap nasib hidup satu dua orang bandar narkoba yang divonis mati, tapi dengan sengaja dan vulgar mengabaikan hidup jutaan generasi anak bangsa yang telah terpapar narkoba. Mereka begitu bersemangat dan tak henti-henti memberi cap buruk terhadap pemerintah yang dengan tegas lebih memilih membela kelanjutan hidup dan menyelamatkan jutaan anak negeri, tapi malah berkoar-koar tak keruan memperjuangkan hidup seseorang yang ghalibnya tidak pernah menghargai nilai kehidupan.

Kenelangsaan Nenek Asyani adalah potret buram penegakkan hukum di negeri ini. Entah sampai kapan kenelangsaan seperti yang dialami Nenek Asyani akan terus terulang? Jika para penegak hukum (ya polisi/penyidik, jaksa, dan hakim) masih tetap terpaku pada bunyi teks undang-undang dan lebih memilih untuk menghukum daripada membuat terobosan hukum. Maka jangan heran, nasib yang sama akan tetap dialami oleh Nenek Asyani-Nenek Asyani lainnya. Pada drama Nenek Asyani ini pun kita seakan dipaksa untuk mencari dan bertanya, di mana peran negara. Sampai pada vonis yang dibacakan hakim kemarin (Kamis, 23/04/2015), negara seakan alpa hadir, walau hanya sekedar untuk memberi spirit. Pada beberapa waktu yang lalu, penulis juga sudah membuat artikel tentang Nenek Asyani, yang bersimpuh memohon ampun (https://hukum.kompasiana.com/2015/03/13/nenek-asyani-pun-bersimpuh-memohon-ampun-711763.html). Harapan penulis, agar banyak orang, terutama negara dapat hadir dan tergerak untuk bersama-sama, sekurang-kurangnya memberi perhatian terhadap kasusnya. Dengan begitu, di ujung kasusnya dapat berakhir bahagia (happy ending). Tapi rupanya, harapan penulis itu, jauh panggang dari api. Duh negeriku, sampai kapan engkau hadir dan memutus mata rantai ketidakadilan yang menggurita ini?



Cekrek, Upload, Anies Pantau Banjir Di 4 Tempat Sekaligus Pukul 12:24 AM, Dasar Koplak





SEWORD.COM - Enggak ketebak dan enggak kebayang atau kepikir kan? Empat penampakan Anies saat banjir tengah malam di laman FB Pemprov menuai pujian selangit. Aksi blusukan Jokowi dan aksi heroik Ahok mengatasi banjir kalah dengan aksi foto sulapan pencitraan sang Gubernur DKI.

Aksi beliau foto-foto itu di saat yang sama sebenarnya sedang mempertontonkan sistem kerja Gubernur sebelumnya yang sudah bekerja keras membangun sistem mengatasi banjir. Jadi beliau tinggal nyantai, hepi-hepi dan pasang tampang, cekrek, upload.


Kalimat saktinya,”pantau”, banjir terpampang dengan jelas lewat foto-foto itu. Hanya bisa memantau, pertama karena tidak tahu harus berbuat apa dan kedua Ahok sudah membereskan kerjaan mengatasi banjir sehingga Anies dan warga DKI tinggal menikmati.

Gaya pantau-memantau terlihat natural lewat foto blusukan di malam hari. Tapi walaupun berusaha keras memasang gaya blusukan, tetap saja menggelikan dan mngelitik netizen. Itulah motonya,”Dagelan Gubernurnya, Ketawalah Warganya,”. Sekali lagi jangan dikatain dan jangan diketawain, wkwkwk.

Seperti kata Sandi bahwa timnya memang kumpulan super hero, ternyata benar. Ada 4 penampakan Anies pada saat lewat tengah malam di Jakarta saat meninjau banjir. Aksi heroik apa horor ya? Mengerikan plus menggelikan.

Janji Gubernur untuk standby alias begadang memang ditepati, saudara-saudara. Seperti lagunya Rhoma Irama,”Begadang saya begadang, begadang untuk difoto, wkwkwk”. Sebagai penutup lagunya, ,”Begadang saya begadang, begadang tiada hasilnya, hahaha”.

Ada 4 foto profesional yang ditampilkan untuk menonjolkan sosok penampakan Gubernur DKI yang mengklaim standby saat banjir. Dari angle dan lighting, sempurna. Pencahayaan sangat professional, ekspresi apalagi. Itu menunjukkan pemotret adalah sosok yang profesional.

Luar biasa sekali bukan? Tapi yang lebih luar biasa adalah waktu pengambilan foto juga turut diikutsertakan dengan huruf kapital pula! Pada pukul 12:24 atau pukul 12 lewat tengah malam. Fokus yang menyasar Gubernur menunjukkan pencitraan sang super hero yang begadang sedang beraksi.

Warga atau netizen sampai tercengang dan kehabisan kata melihat settingan penjepretan yang menangkap momen indah dan heroik Gubernur melakukan pengecekan saat banjir. Menunjukkan kesigapan dirinya yang menggalang motto :siap, galang, tanggap.


Alih-alih menunjukkan di lapangan dengan terjun ke tengah banjir ternyata mottonya itu berlaku untuk siap, galang dan tanggap dijepret, wkwkwk. Juru jepret dengan susah payah menjadi pengarah sang Gubernur dan berpikir keras untuk menampilkan foto yang mampu mengalahkan Ahok saat hadapi banjir.

Maka hasil pemotretan itu akhirnya ditampilkan dan netizen lalu membandingkan kehebatan Anies yang berhasil mengalahkan Ahok yaitu foto-foto saat banjir, hahaha. Ahok kalah dalam hal ini. Dia gak peduli dan memikirkan pose atau penampakan dirinya.


Warga dan wartawanlah yang secara sukarela menguber dan mengambil foto Ahok secara natural. Sementara Anies terus memaksa dirinya begadang dengan memasang muka senyum sesuai arahan tukang potret, satu, dua , senyum yang lebar, tiga,” masuklah ke kamera.

Pencitraan yang benar-benar semprul sempurna dan tiada tanding serta tiada banding dengan Ahok. Dari kata-katanya yang mengusung standby, begadang tenyata hanya untuk tujuan foto-foto, walah. Hasilnya kagak ada alias ora ono.

Si Wan Abud memmang pandai dalam mengelabui tidak hanya dengan janji tapi dengan trik foto kamera profesional tapi sayang akhirnya aib terbuka. Bayangkan dalam waktu yang sama bisa menghadirkan 4 sosok Anies sekaligus di 4 tempat berbeda.

Jangan-jangan anggaran APBD DKI yang fantastis 2018 sudah digunakan untuk membeli perangkat hologram super atau mesin waktu super yang bisa membuat 4 sosok muncul bersamaan. Tapi yang menakjubkan adalah aksi dan posenya yang berbeda itu loh!

Pengelabuan tingkat dewa tapi sebenarnya ngelesisasi yang akhirnya menyeruak. Ngeles Pak Gubernur sudah melangkah maju tidak hanya lewat mulut atau omongan tapi kamera dan foto yang berbicara. Buset!

Jangan-jangan pak Gubernur memiliki pengabdi foto alias juru potret seperti Pak Fauzi Bowo. Saya pernah mendengar bahwa pak Fauzi itu rajanya pencitraan karena punya tukang foto profesional.

Nah, model inilah yang ditiru oleh pak Gubernur, membawa-bawa tukang foto agar bisa mengelabui warganya, wkwkw. Perhatikan ada pose Gubernur sudah pasang gaya, malah ada yang cuekin sembari main HP dan mungkin sedang berkomentar, apaan sih lu, gaya doang, hahaha. 


Salam keberkwkwkwan dah.


SBY: Perilaku Setya Novanto Ibarat ''Air Susu Dibalas Air Tuba'' . Inilah 10 Alasan SBY Itu Presiden Paling Licik yang Pernah Dimiliki Indonesia......





Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY) menyebut perilaku mantan Ketua Umum Golkar Setya Novanto ibarat peribahasa "Air susu dibalas dengan air tuba".

Sebab, menurutnya, kebaikan hati SBY nyatanya dibalas perlakuan yang tidak menyenangkan dari Novanto.

SBY mengatakan, ia pernah meminta kader Demokrat untuk tidak merisak Novanto atas rentetan musibah yang menimpa mantan Ketua DPR-RI itu.


"Waktu Pak Setya Novanto di-bully, macem-macem bully-annya dulu, dari ICU, kemudian sehat walafiat, kemudian kecelakaan, kemudian luka-luka banyak benjolannya, semua saya larang: Teman-teman, Saudara-saudara jangan ikut-ikutan melakukan bully. Tidak baik, tidak baik," kata SBY di Jakarta, Selasa (6/2/2018).

"Tapi nampaknya air susu dibalas dengan air tuba," kata dia lagi.

Dalam sidang pemeriksaan dugaan kasus tindak pidana korupsi pengadaan e-KTP, Novanto memamerkan buku catatannya. Di dalamnya ada nama anak bungsu SBY, yakni Edhie Baskoro Yudhoyono ( Ibas).

Hal inilah yang membuat SBY merasa Novanto layak diibaratkan air susu dibalas dengan air tuba. SBY pun mendukung Ibas untuk memperoleh hak keadilannya.

"Dia juga warga negara. Sudah terlalu banyak fitnah yang dialami. Mari kita berikan jalan juga bagi seorang Edhie Baskoro Yudhoyono untuk mendapatkan keadilannya," pungkas SBY.

Tentang nama Ibas

Setya Novanto selalu membawa buku hitamnya saat persidangan. Kepada media, Novanto menyebutkan ada catatan terkait proyek e-KTP dalam buku itu.

Seperti dikutip dari Tribunnews.com, pada persidangan Senin (5/2/2018), terlihat di buku tersebut ada sebuah kalimat menonjol, yakni "Justice Collabolator", yang ditulis dengan tinta hitam dan disertai tiga tanda seru.

Selain kata Justice Collabolator, ada juga tulisan "Nazaruddin" dengan garis ke bawah, USD 500.000. Kata lainnya adalah "Ibas" dan "Ketua Fraksi".

Ditanya lebih lanjut soal apakah Ibas yang dimaksud adalah Ketua Fraksi Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono?

Setya Novanto menjawab "No comment."

Ditanya soal apakah pihaknya juga akan meminta agar Puan Maharani, yang saat proyek e-KTP bergulir masih menjabat sebagai ketua Fraksi PDI Perjuangan, untuk dihadirkan di persidangan, jawaban Setya Novanto sama.

"No comment lah," ujarnya.

Setelah tersorot media soal catatan tangan di buku hitamnya, Setya Novanto menyembunyikan catatan tersebut.

Dia bahkan tidak lagi menulis di buku catatan tersebut, melainkan menulis di lembaran kertas.

Mantan Ketua DPR ini mengakui dirinya trauma karena tulisan tangannya kembali terungkap di media.(Estu Suryowati)

Berita telah dipublikasikan di Kompas.com dengan judul: SBY Peribahasakan Novanto "Air Susu Dibalas Air Tuba"

Sumber

Inilah 10 Alasan SBY Itu Presiden Paling Licik yang Pernah Dimiliki Indonesia......  

1. Memposisikan dirinya sebagai pihak yang selalu terzolimi dan teraniaya. 

2. Memprovokasi umat Islam dan MUI untuk menerbitkan fatwa dan demo besar-besaran pada tanggal 4 November 2016 dengan satu tujuan besar; agar Ahok tumbang sehingga anaknya si Agus Harimurti itu yang jadi Gubernur DKI. 

3. Menasehati seluruh lulusan akademi perwira TNI dan Polri agar mereka jangan bercita-cita menjadi kepala daerah, melainkan harus konsentrasi dan mengabdi sepenuhnya hanya sebagai perwira TNI atau Polri. Namun realitajya justru menyuruh putranya, Agus Harimurti Yudhoyono, berhenti jadi Mayor dan melamar jadi calon Gubernur DKI Jakarta. 

4. Menginsntruksikan agar Indonesia tak boleh membangun dinasti politik, tapi dari balik layar dia mendorong anak-anaknya dan sanak keluarganya berbondong-bondong mengajukan diri masuk Parlemen. Berikut daftarnya; Edhi Baskoro Yudhoyono, Dapil Jatim VII. Sepupu SBY, Sartono Hutomo, Dapil Jatim VII. Keponakan SBY, Mexicana Leo Hartanto, Dapil DKI Jakarta I. Sri Hidayati (adik ipar Agung Budi Santoso) Dapil di Jawa Barat III Adik ipar SBY, Hartanto Edhi Wibowo, Agus Hermanto, Lintang Pramesti, Nurcahyo Anggorojati, Decky Hardijanto, Putri Permatasari, Dapil Banten III, Dapil Jabar VIII, Jateng I, Jateng VI.Jateng V. 

5. Kongkalingkong kasus Bunda Putri. 

6. Mensomasi Kompasianer, Sri Mulyono terkait tulisannya, "Anas: Kejarlah Daku, Kau Terungkap" yang menelanjangi kebusukan SBY di Kompasiana. Dua kali Kompasianer Sri Mulyono disomasi pangacara keluarga SBY, Palmer Situmorang, yaitu pada tanggal 14 Desember dan tanggal 20 Desember. 

7. Memenjarakan Antasari Azhar karena telah menangkap dan memenjarakan besannya, Aulia Pohan, yang terlibat kasus penggelapan dana Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (YPPI) sebesar Rp 100 miliar. 

8. Menjadikan Bank Century sebagai mesin ATM-nya untuk untuk membiayai kampanye politiknya. 

9. Mengkondisikan agar proyek IT di KPU dimenangkan oleh perusahaannya Hartati Murdaya (Bendahara Partai Demokrat). 

 10. Menelantarkan 32 proyek listrik dengan nilai ratusan triliun rupiah sehingga menyengsarakan rakyat. 

Senin, 05 Februari 2018

VIDEO VIRAL!!!! MANTAF,! Bedanya Target Jokowi Membangun Jembatan di Tahun 2017=72 Jembatan 2018=300 Jembatan




MANTAF,! Bedanya Target Jokowi Membangun Jembatan di Tahun 2017=72 Jembatan 2018=300 Jembatan