Rabu, 28 Februari 2018

VIDEO VIRAL!!! AHOK AKAN BEBAS..! FPI KEOK TAKBERKUTIK, ADU MULUT JUBIR AHOK vs AHLI PIDANA MUI, BUSUKNYA FPI

AHOK AKAN BEBAS..! FPI KEOK TAKBERKUTIK, ADU MULUT JUBIR AHOK vs AHLI PIDANA MUI, BUSUKNYA FPI

Selasa, 27 Februari 2018

VIDEO VIRAL!!! Ketum MUI: Jangan Gunakan Nama "Muslim" untuk Sebar Hoax




JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Ma'ruf Amin mendukung penuh langkah kepolisian untuk mengungkap tuntas sindikat Muslim Cyber Army (MCA) yang menyebarkan hoax dan isu provokatif di media sosial. 

"Siapa saja yang menyebarkan hoax itu, darimana saja, ya harus diproses. Itu menimbulkan kegaduhan, bisa terjadi konflik. Oleh karena itu, pihak kepolisian tidak usah ragu, dimana saja harus diproses," kata Ma'ruf di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (28/2/2018). 

Ma'ruf menyesalkan para penyebar hoax isu provokatif ini menggunakan nama 'Muslim Cyber Army' dalam menjalankan aksinya.   

Padahal, tindakan dan aksi mereka jauh dari nilai-nilai Islam yang damai dan rahmatan lil alamin. 

"Jangan juga menggunakan nama Muslim kan dan yang penting jangan melakukan hoax itu supaya negara ini aman. Negara ini harus kita jaga kawal supaya keutuhan bangsa tetap terjaga," kata Ma'ruf. 

Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri bersama Direktorat Keamanan Khusus Badan Intelijen Keamanan mengungkap sindikat penyebar isu-isu provokatif di media sosial. Penangkapan dilakukan di beberapa tempat pada Senin (26/2/2018). 

 Adapun keempat tersangka yang ditangkap adalah ML di Tanjung Priok, RSD di Pangkal Pinang, RS di Bali, dan Yus di Sumedang. 

Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen (Pol) Fadil Imran mengatakan, para pelaku tergabung dalam grup WhatsApp The Family Muslim Cyber Army (MCA). 

Mereka menyebar informasi soal diskriminasi SARA hingga isu penganiayaan ulama. 

Di samping itu, para pelaku juga menyebarkan ujaran kebencian terhadap presiden dan beberapa tokoh negara. 




Kelompok ini diduga menyebarkan isu-isu provokatif hingga menyebarkan virus yang dapat merusak perangkat komputer.(Kompas TV)

Sumber

Faisal Assegaf : Ahok Berhak Ajukan PK, Pendemo Perlu Dicek Kejiwaannya Oleh IDI






Pendiri Presidium Alumni 212 kembali mengeluarkan pernyataan pedas nan nyelekit soal kelompok pendemo Ahok yang kembali mencuat. Faisal Assegaf mengatakan, pengajuan PK oleh Ahok karena itu adalah haknya menggunakan hak konstitusi sebagai warga negara melalui proses hukum, seperti dilansir Tribunnews.

Menurut Faisal, Ahok sudah menempuh jalur hukum secara damai dan bermartabat tapi mengherankan upaya Ahok yang menggunakan jalur hukum pun tetap dijegal dan ini mengudang kritikan tajam dan kecaman Faisal.


Faisal secara blak-blakan juga menyoroti ulah kelompok pendemo yang disebutnya kelompok pemarah itu untuk dicek kejiwaannya. Beliau minta dokter dari IDI dan psikiater untuk mengecek kejiwaan pendemo yang menurutnya memalukan dan tak waras.

Belum cukup sampai di situ, beliau juga mengkritik Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto sebagai tokoh yang selama ini dibela oleh kelompok anti Ahok untuk menghentikan kegaduhan politik identitas, seperti dilansir Tribunews.

Pedas dan tajam luar biasa kritikan keras dari Faisal ini yang ditujukan ke Anies dan Prabowo. Menurutnya, kedua tokoh tersebut diharapkan memberikan pendidikan politik dan mencerdaskan kelompok itu. Jangan malah mengais untung dengan gerakan anti Ahok.

Faisal membuka tabir dan kedok kelompok yang getol mendukung Anies selama ini dan Anies sebagai intelektual bukannya memberi pencerdasan politik dan pencerahan pikiran serta pendinginan emosi tapi malah memanfaatkan kelompok itu untuk mengibarkan namanya. Terlanjur berhutang budi eh berhutang ama Rizieq sih ya Anies?.

Naiknya pamor Anies tak lepas dari jasa kelompok pendemo ini beserta junjungannya Habib Rizieq. Bahkan Faisal tegas dan terang benderang menyatakan bahwa Anies naik jabatan karena faktor Habib Rizieq dan tentunya pengikut-pengikutnya. Ini tak bisa dibantah.

Faisal yang sebelumnya bagian dari kelompok ini tentu saja dengan nalar dan akal sehat melihat bahwa ada bahaya besar jika sentimen politik kebencian terus dipupuk dan dipelihara. Faisal langsung memperingatkan secara tajam akan dampak model politik seperti di Pilkada Jakarta lalu.

Faisal menilai tidak terpuji apabila sentimen politik kebencian kembali dihidupkan demi mendulang dukungan umat jelang Pilpres 2019. Apabila kegiatan itu dibiarkan, Faisal menuding akan memberi ruang kepada kebangkitan radikalis.


Analisis Faisal tepat, mereka akan semakin leluasa bergerak dan beraksi dan kalau terus dibiarkan, akan menjadi perusak kehidupan bangsa dan negara. "Tentu dampaknya memberi daya rusak bagi tatanan berbangsa dan bernegara, harus dihentikan," tegas Faisal.

Kritikan dan kecaman Faisal juga menelanjangi aksi kelompok yang kebakaran jenggot dan ingin menggelar aksi demi memprotes upaya Ahok. Dengan sindiran keras dia meminta Ikatan Dokter Indonesia (IDI) perlu turun tangan dan periksa psikologi para pendemo tersebut.


Setuju dengan apa yang dikatakan Pak Faisal yang menyinggung mantan kelompoknya agar tidak menggunakan agama atau simbol-simbol agama dengan ancaman demo. Nah, bukankah itu jurus yang seakan-akan melegitimasi kelompok itu untuk bertindak main hakim dan bersikap semena-mena. Faisal menyatakan model atau pola seperti itu harus dicek oleh IDI dan psikiater.

Beliau memberikan solusi, menurutnya jika pihak-pihak tersebut tidak setuju dengan langkah yang ditempuh oleh Ahok, harusnya mereka menempuh jalur hukum dan bukan mengajak umat menggelar aksi.

Kritikan Faisal tak berhenti sampai di sini, beliau menilai aksi-aksi itu memalukan dan meminta kawan-kawannya agar kembali waras. Karena mabok agama jadilah ekspresinya begini. Kritikan Faisal ini menampar kiri-kanan muka kawan-kawannya yang berjuang mendemo Ahok secara bertubi-tubi.

"Sebaiknya gunakan pendekatan hukum, bukan menyiram provokasi berbau SARA dan terkesan 'bahalul'. Karena itu pertarungan individu yang tidak ada kaitan dengan gangguan terhadap hak-hak umat," jelas Faisal.

Akhirnya datang tamparan yang mencoba mewaraskan alumni 212 ini yang datang dari pendiri Presidium 212 itu sendiri. Sosok Faisal memang tak kenal takut bahkan setelah dipecat lidahnya begitu tajam membongkar semua kedok dari mantan kelompoknya sendiri serta pemimpin DKI yang terlanjur menikmati hasil upaya kelompok ini.

Kritikan ini pasti akan membuat mantan kelompoknya makin emosi tapi apa daya ucapan dan kritikan Faisal juga menyebar ke media massa. Tak ada beban, rasa takut ketika beliau mengekspresikan kritikannya. Mudah-mudahan Pak Faisal akan terus menyuarakan kritikannya terhadap gerakan ini. Perlu sekali-kali mulut mereka dibungkam oleh mantan pendukung mereka sendiri. Bravo Pak!





Senin, 26 Februari 2018

Blunder Fadli Zon: Prabowo “Capres Harga Mati”, Kalau Prabowo Tahu, Muka Bisa Disambit HP





Dalam cuitannya, Fadli Zon menganggap Prabowo harus menjadi capres dan itu harga mati. Bahkan ia dengan – entah bodoh atau lugu – memberikan kutipan pemberitaan yang sepertinya menjadi pancingan untuk dikomentari oleh pendukung Prabowo yang merupakan mantan keluarga Cendana itu.

Wah saya tidak bisa membayangkan, bagaimana reaksi Prabowo mengetahui bahwa anak buahnya yang loyal itu menginginkan Prabowo capres sampai mati. Akankah handphone jadul akan menghantam keras wajah Fadli Zon? Selengkapnya…


"Ya (harga mati), jadi calon presiden lah… Saya kira kalau bagi Gerindra kami akan solid akan mendukung Prabowo menjadi calon presiden… Tanggalnya sedang ditentukan dan juga melihat jadwal-jadwal lain… Jangan sampai terjadi sebuah oligarki maupun satu upaya-upaya untuk membonsai demokrasi… Ya pokoknya nanti kita akan dudukan dulu dengan mitra-mitra calon koalisi, kriteria. Bahkan nanti kalau waktunya sudah pas, mungkin nama-namanya siapapun harus kesepakatan bersama… " kata Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon di Gedung DPR, Jakarta, Senin (26/2). Sumber.

Sebenarnya CNN adalah portal pemberitaan pada umumnya, yang tidak mengedepankan opini. Wajar saja, sebagai portal pemberitaan yang kredibel, portal pemberitaan tersebut harus menjaga marwahnya sebagai portal pemberitaan yang netral, setidaknya senetral mungkin. Namun ternyata, di dunia ini tidak ada sebuah netralitas.

Netralitas itu bagaikan sebuah mitos yang digadang-gadang. Kita tahu tidak ada yang netral di dunia ini. Bahkan di dalam berkendara, gigi netral itu tidak netral. Menjaga keseimbangan antara kiri dan kanan, merupakan sebuah impian yang ada di dalam negeri utopis.

Senetral-netralnya sebuah media berita, kita bisa melihat keberpihakan media itu kepada Joko Widodo atau Prabowo. Jokowi adalah seorang figur pemimpin yang begitu membuat orang terkesima, bahkan portal-portal pemberitaan yang ada.

Kita melihat, portal pemberitaan yang berat ke Prabowo adalah Republika, karena kita tahu bahwa pemimpinnya memang dekat dan sepaham dengan Prabowo. Maka melihat judul-judulnya saja kita sudah tahu.

Lucunya, Fadli Zon ini mencuitkan sesuatu yang salah secara HQQ alias hakiki. Kesalahan hakiki Fadli Zon ini, justru menjadi batu sandungan Prabowo untuk menjadi presiden. Fadli Zon mengatakan bahwa Prabowo capres harga mati. Maksudnya capres terus sampai mati? Atau apa?

Kalau begitu, saya berdoa, agar doa Fadli Zon yang dipanjatkan melalui Twitter, segera didengar Tuhan, sehingga membuat Prabowo selamanya menjadi capres alias calon presiden. Jangan-jangan kegagalan berkali-kali Prabowo itu adalah doa dari wakil ketua umum Gerindra? Jika Prabowo mengetahui hal ini, akankah Prabowo melemparkan Handphone ke arah wajahnya?

Blunder-blunder yang dilakukan oleh Si Bunder Fadli Zon ini ternyata benar-benar lucu dan caper. Mungkin di dalam kehidupannya, ia memiliki tugas untuk mencari-cari perhatian. Perhatian yang dicari kali ini akan menjadi penyesalan Fadli Zon.

Kita tahu bagaimana Prabowo begitu ngebet ingin menjadi Presiden. Eh, kok babunya malah menginginkan Prabowo menjadi capres, pakai embel-embel harga mati pula? Kalau saya jadi Prabowo, Fadli Zon sudah saya pecat dari dulu.


Jualan kecap yang gagal dikerjakan oleh waketum Gerindra ini, mejadi sebuah jualan kecap yang tidak jelas. Alih-alih ingin menjadikan kecapnya nomor satu, orang ini malah membuat kecapnya basi dan berbelatung.

Saya tertawa geli melihat seorang netizen lain yang bernama Budi Aswin membalas cuitan Fadli Zon dengan kalimat yang begitu tajam dan menyentak.



Setuju, saya ikutan dukung Prabowo jadi calon presiden sampai mati… :’) :’)

Ini adalah sebuah bentuk sarkasme yang seharusnya dimengerti oleh Fadli Zon, secara dirinya adalah orang yang suka membuat sajak. Atau jangan-jangan dia tidak mengerti satir yang dimunculkan oleh Budi Aswin?

Setidaknya, melalui hal ini, kita tahu bahwa Jokowi harus menjadi presiden di periode kedua. Setiap pembangunan yang terjadi, membuat Indonesia semakin maju. Seharusnya, jika warga tidak tertipu dengan hasutan-hasutan biadab yang dilakukan oleh para pemuka agama dan para politisi busuk, Jokowi bisa menjadi Presiden kembali di periode dua.

Akhir kata, mari kita dukung Prabowo menjadi calon presiden sampai mati, seperti yang dikatakan oleh Fadli Zon, bahwa Prabowo Capres Harga Mati! Hahaha.

Betul kan yang saya katakan?



Minggu, 25 Februari 2018

Jokowi: “Jadi Presiden itu berat, jangan kamu, biar aku saja... ”






Presiden ke 7 RI Joko Widodo selalu punya cara tersendiri untuk menyenangkan hati anak-anaknya. Sesibuk apapun, Jokowi selalu menyempatkan waktunya bersama keluarga. Quality time for family ini sepertinya menjadi kewajiban bagi seorang Jokowi. Jika tidak sedang melakukan tugas kenegaraan, khususnya di waktu libur, Jokowi selalu berkumpul bersama keluarganya.

Bahkan saat sedang berkunjung ke suatu daerah pun, jika membawa keluarganya ia selalu punya acara bersama mereka. Seperti ketika berada di Medan Sumatera Utara, Jokowi sempat membawa cucunya Jan Ethes bermain basket di Sun Plaza, Medan.


Demikian juga pada kesempatan lainnya, ia membawa keluarganya sekedar jalan-jalan di Mall berjumpa dengan masyarakat banyak.

Setiap Jokowi berada di tengah keramaian, warga selalu heboh, minta berfoto bersama beliau. Jokowi dengan keramahannya pun tetap melayani permintaan warganya, meskipun untuk itu ia harus membuat Paspampresnya kerepotan hahaha..memang begitulah tugas Paspampres kalo nda dibuat repot bukan Paspampres namanya.

Pekan ini, Jokowi mengajak serta putrinya Kahiyang bersama menantunya Boby Nasution menonton film Dilan 1990. Aih…keren juga Presiden kita ni, tak mau kalah dengan anak muda zaman now.

Rupanya Jokowi mendengar bahwa film Dilan yang diangkat dari Novel karya Pidi Baiq ini telah memikat hati banyak penggemarnya. Sejak mulai diputar 25 Pebruari lalu, film Dilan telah tembus 6 juta penonton. Hal ini menunjukkan bahwa film ini menjadi favorit bagi kalangan anak muda sampai kalangan dewasa.

Bahkan dari para netizen penggemar film Dilan saat kubaca di medsos, bisa nonton film ini 4 sampai 5 kali. Wow…luar biasa. Dilan yang diperankan oleh Iqbaal Ramadhan dan Milea yang diperankan oleh Vanesha Prescilla telah sukses menyihir penonton.

Novel Dilan memang sangat unik, isinya menceritakan tentang kisah dua orang sejoli yang saling mencintai.

Pidi Baiq, sang penulis Novel ini telah sukses membuat pembacanya terhibur dengan kisah cinta dua remaja yang romantis, melankolis dan menggelitik.

Kemudian Novel Dilan yang berjudul Dia adalah Dilanku Tahun 1990 ini diangkat ke layar lebar dengan sutradaranya Fajar Bustomi. Sang sutradara ini berusaha mempertahankan agar film Dilan sama dengan cerita di novel.

Film Dilan bercerita tentang seorang gadis bernama Milea, yakni seorang murid yang baru pindah dari Jakarta. Saat Milea pergi ke sekolah, ia bertemu dengan temannya laki-laki yang kebetulan satu sekolah dengannya.

Temannya itu suka meramal. Kemudian ia meramalkan akan bertemu dengan Melia di kantin sekolah. Awalnya Melia tak begitu peduli dengan laki-laki itu, namun selanjutnya ia merasa terganggu karena laki-laki itu selalu menghampirinya. Melia pun akhirnya mencari tau tentang laki-laki itu. Kemudian diketahuinya bahwa laki-laki itu bernama Dilan.

Suatu hari, Dilan membuntuti Milea ketika pulang menggunakan angkot, Dilan berkata “Milea, kamu itu cantik, akan tetapi aku belum cinta kepadamu. Tak tau jika sore, tunggu saja”.


Rupanya kata-kata tersebut membuat jantung Milea berdetak kencang, nampaknya ia kaget dengan ucapan Dilan itu. Dalam diamnya, Milea terus memikirkan kata-kata Dilan, sambil pikirannya teringat pada Beni pacarnya yang tinggal di Jakarta.

Dilan terus mendekati Milea dengan cara yang unik dan tak seperti biasa, sepertinya hal itulah yang membuat Milea terus memikirkannya.


Dilan memberikan kado sebuah coklat untuk Milea yang disampaikannya lewat Pos, Dilan juga membawa seorang tukang pijat ketika Milea jatuh sakit.

Ketika Melia berulang tahun, Dilan memberikan kado sebuah TTS (Teka-teki Silang) untuknya dengan sebuah tulisan yang lucu “Selamat Hari Lahir Melia, ini aku persembahkan hadiah untuk kamu. Hanya sebuah TTS, tapi semuanya sudah aku isi, aku cinta kamu, aku tidak ingin kamu jadi pusing karena mengisi TTS ini”.

Dilan juga mengatakan, “Milea..jangan rindu. Ini berat. Kau tak akan kuat. Biar aku saja”. Ucapan-ucapan Dilan yang romantis tapi juga lucu ini membuat penonton terutama anak-anak muda menjadi terhipnotis.

Cerita Dilan memang menggambarkan kehidupan anak-anak remaja, meskipun di film digambarkan kisah itu tahun 1990 namun cerita itu masih relevan sampai sekarang.

Remaja yang sedang jatuh cinta mungkin akan merasakan hatinya dag dig dug saat menonton film Dilan tersebut sambil mengandaikan Dilannya pun seperti Dilan di film hahaha…akupun yang ikutan nonton bareng teman (meski tak sempat bersama anakku) jadi teringat masa lalu.

Terus Pakde Jokowi pun tak mau ketinggalan, ikutan nonton film Dilan bersama mbak Ayang dan Mas Boby. Ternyata Pakde senang dengan film ini yang membuatnya juga teringat masa lalu bersama Ibu Iriana tentunya hehehe. Di akun IGnya @jokowi, ia mengatakan, ”Banyak yang mention film Dilan, katanya bagus. Ternyata memang keren, saya jadi teringat zaman remaja”.

Nah bisa-bisa Pakde punya ide nanti, pas kampanye Pilpres 2019 bikin slogan “Jadi Presiden itu berat, jangan kamu, biar aku saja... Jokowi!”. Hahaha…ya sip deh, setuju Pakde memang harus dilanjutkan 2 periode.

Begitulah kura-kura



Alhamdulillah Puji Tuhan, Ahok Wapres Jokowi 2019-2024






Orang tua-tua dulu bilang ucapan adalah doa, ini benar adanya. Jika malas ke sekolah, jangan beralasan sakit karena nanti akan sakit beneran.

Jika malas masuk kantor, jangan beralasan anak sakit, karena nanti anak akan sakit beneran.


Sama seperti yang dialami oleh teman saya, karena kelamaan jomblo, dia sesumbar dan bilang akan menikah pada usia 40 tahun.

Ternyata benar, teman saya itu akhirnya menikah tepat di usia 40 tahun. Makanya jangan sembarangan ngomong karena di alam roh sana ada roh baik dan roh jahat yang mengamini apa yang Anda ucapkan.

Apalagi sembarangan ngomong seperti si M. Taufik yang dulu sesumbar akan menyambangi KPK sebulan sekali untuk menanyakan KPK kapan Ahok dijadikan tersangka korupsi RS. Sumber Waras.

Alih-alih Ahok dijadikan tersangka oleh KPK, justru ucapannya itu berbalik menimpanya. Si raja lobster itu akhirnya bolak balik dipanggil KPK terkait kasus korupsinya si santun tapi korupsi aka Sanusi dulu.

Wajahnya selalu kusut karena stress akibat hampir tiap bulan si M. Taufik ini menyambangi KPK karena bolak-balik dipanggil sebagai saksi dan diperiksa berjam-jam lamanya oleh Penyidik KPK. Makanya hati-hati dengan mulut.

Hal yang serupa kini terjadi dengan napi kasus makar yang karena kebaikan hati Polisi diberikan penangguhan penahanan, yaitu si Gatot Santono aka Muhammad Al Khaththath.

Dari mulutnya keluar ucapan bahwa Ahok akan jadi Wapres kalau pengajuan Peninjauan Kembali (PK) yang diajukan Ahok disetujui MA. Saya meyakini ucapannya itu diamini oleh roh baik di alam roh sana.

Dengan demikian maka Basuki Tjahaja Purnama benar-benar akan jadi Wakil Presiden yang mendampingi Presiden Republik Indonesia Ir. Joko Widodo untuk periode 2019-2024.

Al Khaththath bilang dia curiga ada udang di balik batu dalam pengajuan Peninjauan Kembali (PK) putusan kasus Ahok.

Menurut Al Khaththath, pengajuan PK itu hanya untuk melenggangkan jalan Ahok menuju kursi Calon Wakil Presiden pada Pemilu 2019 mendatang.

Si Al Khaththath ini sangat yakin kalau PK dikabulkan oleh Mahkamah Agung maka Ahok akan dibebaskan sehingga tidak lagi berstatus narapidana dan akan jadi Calon Wakil Presiden 2019 mendatang.

Ucapannya si Al Khaththath ini sama halnya dengan menggebuk air di ember kesemprot ke muka sendiri. Ngotot menolak PK Ahok padahal status hukumnya masih penangguhan penahanan.

Apa orang ini sudah lupa dengan statusnya atau barangkali dia sudah lupa diri. Dia tidak paham bahwa sewaktu-waktu Polisi akan mencabut kembali status penangguhan penahanannya akibat ulahnya saat ini.

Polisi akan menjebloskannya kembali ke tahanan Mako Brimob sana karena melakukan provokasi yang melanggar persyaratan penangguhan penahanannya dulu.

Begini ini kalau orang yang buta hukum seperti si Al Khaththath ini. Dia tidak sadar bahwa statusnya masih Penangguhan Penahanan terkait kasus makar, sekarang dengan beraninya bikin ulah.


Dia memprovokasi seluruh umat Islam untuk menolak pengajuan PK Ahok karena takut Ahok jadi Wapres. Giliran si Buni tidak dikerangkeng, dia diam saja. Giliran Ahok mau PK, dia malah panik.

Padahal mau Ahok bebas kek, jadi Wapres kek, tidak merugikan hidupnya. Lain cerita kalau Ahok bebas dan jadi Wapres, dia ditangkap dan masuk penjara. Atau hartanya disita.


Dan juga apa kapasitasnya menolak PK Ahok? Politisi bukan, Menteri bukan, anggota DPR juga bukan. Hanya orang biasa kok hebat amat mati-matian menolak PK Ahok.

Namun apapun itu. Inilah dasyatnya Ahok. Dengar nama Ahok, atau bayangan wajah Ahok samar-samar atau bahkan tidak jelas, dia sudah tidak bisa tidur. Ingin tidur tapi tidak ngantuk.

Ingin makan tidak lapar. Ingin sembahyang tidak jadi, efek Ahok sangat mengerikan bagi si Al Khaththath ini yang mengidap penyakit sindrom Ahokphobia akut.

Padahal setan juga tahu vonis yang diterima Ahok adalah produk politik kebencian yang memecah belah masyarakat dengan menggunakan sentimen anti Islam untuk memenjarakan Ahok.

Tapi saya yakin si Al Khaththath ini hanya pion saja, dengan kata lain hanya jongos saja untuk menjegal PK Ahok.

Otak dibalik semua itu adalah orang yang dari dulu kebelet jadi Presiden tapi tidak pernah berhasil. Itu saja titik.

Tidak usah bertele-tele bahas panjang lebar sepak terjangnya si Al Khaththath yang bukan siapa-siapa ini.

Saya juga yakin Ahok dan Pengacaranya tetap maju dengan Peninjauan Kembali kasus hukum yang menjeratnya karena itu adalah hak setiap warga negara Indonesia.

Saya juga yakin seyakin-yakinnya Ahok tidak akan gentar dengan rombongan Walking Dead yang mengancam akan demo ke Pengadilan.

Mereka hanya bisa lapar dan sange. Setelah kenyang makan nasi bungkus, mereka akan kembali ke kandangnya dengan tertib.

Order nasbung masih tetap sama kok. Harga masih tetap seperti yang kemarin itu, pakai ayam sama mie Rp 7 ribu, pakai telor sama tahu dan tempe Rp 5 ribu.

Kalau dulu 7 juta umat yang demo, kini cuma 5 ribu. Mungkin sisanya yang lain sudah pada waras.

Terima kasih Ahok, sudah di dalam penjara pun Ahok masih menciptakan lapangan pekerjaan bagi mereka-mereka para pengangguran walking dead itu.

Dan saya yakin ucapannya si Al Khaththath soal Ahok jadi Wapresnya Jokowi di 2019 akan diamini oleh Tuhan Yang Maha Adil. Kenapa demikian? Karena mukjizat itu nyata. Tidak ada yang mustahil di dunia ini.

Kalau TUHAN sudah tekan tombol ENTER, maka tidak ada seorangpun yang bisa menekan tombol ESC berkali-kali untuk menjegal Ahok jadi Wapresnya Jokowi.



Jumat, 23 Februari 2018

HEBOH VIRAL!! Akhirnya Warga DKI Gugat Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan ke Polda Metro Jaya terkait penutupan Jalan Jatibaru Tanah Abang



Clairee Duchesnaye
Umum
21 hours ago
4 min read
14.4k Trending




Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dilaporkan ke Polda Metro Jaya terkait penutupan Jalan Jatibaru Tanah Abang, Jakarta Pusat. Anies dilaporkan oleh Jack Boyd Lapian selaku Sekjen Cyber Indonesia.

Laporan Anies teregister dengan nomor TBL/995/II/2018/PMJ/Dit.Reskrimsus tanggal 22 Februari 2018. Perkara yang dilaporkan adalah perbuatan yang mengakibatkan terganggunya fungsi jalan di Jalan Jatibaru Tanah Abang, Jakarta Pusat.


Pihak terlapornya adalah Anies Baswedan. Pasal yang dilaporkan pasal 12 UU RI No 38 Tahun 2004 tentang Jalan.

Jack menjelaskan laporan ini dibuat sebab Pemprov DKI dinilai tidak mempunyai aturan hukum soal penutupan kawasan Tanah Abang. Menurutnya, kebijakan itu pula yang mendapat respons negatif dari berbagai kalangan.

"Sehingga keputusan itu mendapat respon dari berbagai kalangan karena dianggap sebagai kebijakan yang kontroversial dan bertentangan dengan peraturan yang berlaku serta faktanya justru menimbulkan permasalahan baru, bahkan mengarah kepada dugaan tindak pidana," kata Jack dalam keterangannya, Jumat 23/2/2018.

Di samping itu, masih kata Jack, kebijakan Anies itu justru membuat PKl cenderung semakin banyak. Banyak warga pula yang melakukan unjuk rasa karena penutupan kawasan Tanah Abang tersebut.

"Bahwa sesuai surat rekomendasi Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya Tentang Penataan Kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat Kepada Pemprov DKI pada pokoknya meminta Pemprov DKI mengembalikan dan mengoptimalkan kembali fungsi jalan untuk mengurangi dampak kemacetan dan kecelakaan lalu lintas guna peningkatan kerja lalu lintas dan peningkatan pelayanan angkutan umum sesuai dengan ketentuan Per-UUan yang berlaku," ujarnya.

Secara terpisah, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono membenarkan adanya laporan tersebut.

"Ya benar (ada laporan)," kata Argo.

Tak Ada Tanggapan dari Anies

Anies ditanya soal dirinya yang dilaporkan ke Polda Metro Jaya terkait penutupan jalan di Tanah Abang ini. Namun, Anies enggan berkomentar.


"Tidak ada tanggapan," kata Anies di Balai Kota, Jakarta Pusat, Jumat 23/2/2018.

Sumber : detikdotcom


Babak baru soal penataan pasar tanah abang kembali mengemuka, kontroversi kebijakan yang diambil oleh Gubernur DKI Jakarta terpilih Anies Baswedan kini menimbulkan polemik dan masalah baru bagi sang Gubernur.

Akhirnya ada warga DKI yang berani ambil sikap dan lawan kebijakan kontroversial ini, setelah sekian lama para warga hanya "ribut dalam diam", berani berkomentar hanya dibelakang, menggerutu sambil menunduk, kini ada warga DKI yang tampil lawan dan gugat kebijakan sang Gubernur yang tak bijak.

Penutupan jalan jati baru memang benar - benar langkah aneh yang belum pernah ada dan belum pernah terjadi dan belum pernah diambil dan dilakukan oleh kepala daerah manapun dibelahan dunia ini.

Penutupan jalan jati baru sejatinya bukanlah penataan pasar yang tepat, penutupan jalan jati baru hanya sikap dan tindakan arogansi sang Gubernur yang isi kebijakan bukan pro rakyat dan pro wong cilik seperti yang biasa ia gadang - gadangkan.

Jika persepsi Gubernur DKI Jakarta soal wong cilik hanyalah pedagang asongan dan pedagang kaki lima maka rasanya tidak tepat dan tidak adil sebab Jakarta ini tidak hanya berisi dan diisi oleh pedagang kaki lima saja, masih ada begitu banyak profesi kecil dengan penghasil kecil diibu kota ini yang perlu diperhatikan dan didukung oleh Pemprov DKI.

pedagang kaki lima yang dibela Gubernur DKI hanya segelintir dan sebagian kecil profesi kecil diibu kota ini, penutupan jalan jati baru bagi mereka hanya akan menjadi kebijakan sepihak dan tak berkeadilan bagi warga masyarakat DKI, pedagang kaki lima yang dibela Anies bahkan tak membayar pajak, mungkin mereka juga tak ber-KTP atau tak memiliki identitas DKI.

Warga masyarakat yang justru mengeluh dan susah adalah murni warga DKI, ber-KTP DKI, dan memiliki identitas DKI yang jelas, mereka bahkan membayar pajak dari penghasilan mereka, yang hasilnya dipakai juga untuk membangun ibu kota ini.

Warga masyarakat yang mengeluh adalah warga masyarakat yang seharusnya lebih berhak mendapat perhatian dan lebih berhak menikmati kebijakan pemprovnya, pelaporan gugatan terhadap Gubernur DKI Anies Baswedan menunjukan gambaran pemerintahan provinsi yang tak bijak, tak adil, dan semena - mena, mentang - mentang Gubernur, lakukan dan putuskan seenaknya.

Pelaporan terhadap Gubernur DKI adalah contoh pemerintahan yang bobrok dan buruk, sebab dari banyak sejarah sebelumnya, dari banyak Gubernur sebelumnya, belum pernah ada Gubernur digugat warganya karena kebijakannya, hal ini jadi aib baru bagi Anies dan partai yang mengusungnya.