Jumat, 14 Juli 2017

HEBOH!!!! Hary Tanoesoedibjo: Ayahku Muslim Taat, FPI : Berarti Hary Tanoesoedibjo Murtad



Ada yang masih ingat ketika Delegasi Forum Umat Islam (FUI) geram dengan sikap arogan CEO MNC Group, Hary Tanoesoedibjo yang tetap menggelar kontes kecantikan Miss World dan mengabaikan penolakan umat Islam beberapa tahun silam ???

Pada saat itu, Hary Tanoe enggan disebut sebagai “Cina Kafir” sebab HT mengaku bahwa ternyata ayahnya adalah seorang Muslim yang taat seperti yang dimuat oleh situs salah satu pendukung pasangan Anies-Sandi saat ini :

http://m.voa-islam.com/news/indonesiana/2013/09/10/26741/hary-tanoe-akui-ayahnya-muslim-taat-ustadz-shabri-berarti-dia-murtad/

Benarkah Ayah HT Seorang Muslim ???

Untuk menjawab pertanyaan ini sangatlah mudah. Penulis hanya mengambil informasi tentang ayah HT yang merupakan seorang Muslim dari situs media milik HT sendiri berikut ini :

http://rubik.okezone.com/read/37552/pemimpin-dan-pelayan

Jadi benar donk jika Pak HT dikatakan “murtad” oleh Sekjen Front Pembela Islam (FPI), KH Ahmad Shabri Lubis beberapa tahun yang lalu seperti yang dilansir oleh situs media milik Pendukung Pasangan Anies-Sandi ini.

Sejarah Kelam Antara HT dengan FPI

Bukan hanya sekali ini saja FPI “marah” kepada HT, beberapa tahun sebelumnya, FPI pernah mencaci HT dengan sebutan (Maaf) “Babi” seperti yang udah penulis bahas di https://seword.com/politik/h-djarot-diusir-dari-mesjid-ht-ceramah-di-mesjid-para-pendukung-anies-sandi-kalian-waras/.

Penulis heran dengan kelakuan FPI yang mengklaim dirinya sebagai Pembela Islam tapi bertindak anarkis, selalu berkata kasar dan “halal” mencaci maki orang lain dengan kata hewan. Itukah ajaran “agama” FPI yang boleh melakukan tindakan anarkis berkedok pembela agama ???

Kepada semua antek FPI yang ada di Indonesia, apakah kalian bangga sudah menjadi simpatisan atau anggota FPI yang sudah merusak nama Islam seperti kata SBY beberapa tahun yang lalu seperti yang udah penulis bahas di https://seword.com/politik/sby-saja-pernah-bilang-fpi-terkenal-jelek-di-timur-tengah/.

Bukan hanya SBY saja yang gerah dengan tindakan FPI yang anarkis berkedok pembela Islam, bahkan Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang merupakan perhimpunan negara-negara Islam, angkat bicara mengenai organisasi yang mengatasnamakan Islam beberapa kali memakai tindakan yang dinilai represif, seperti Front Pembela Islam (FPI). OKI mempertanyakan dari mana lisensi dan izin organisasi masyarakat yang mengatasnamakan Islam seperti itu ?

“Pertama-tama kami bertanya kepada mereka yang bertindak atas nama Islam. Dari mana mereka mendapat lisensi untuk melakukan ini, siapa yang mengizinkan mereka untuk melakukan itu?” ujar Sekjen OKI, Ekmeleddin Ihsanoglu, ketika dimintai tanggapan mengenai ormas seperti FPI seperti yang dimuat dalam media nasional berikut ini :

http://news.detik.com/berita/1847226/soal-fpi-sekjen-oki-siapa-izinkan-mereka-bertindak-atas-nama-islam

Tapi penulis tidak heran dengan tingkah laku FPI yang berkedok Pembela Islam, karena foto di bawah ini menunjukkan “akhlak” bagaimana anggota FPI di Jawa Barat dalam “mendoktrin” anaknya untuk menghasilkan generasi FPI di masa depan.

Aa, inikah akhlak akhlak akhlak yang engkau banggakan dari anggota FPI Jawa Barat ??? Mana suaramu Aa ???

Anggota FPI Jawa barat dengan anaknya

Dari kecil saja sudah “didoktrin” dengan jari tengah seperti itu jadi jangan heran jika besarnya nanti jadi anarkis seperti bapaknya !!! 😀 😛

Foto ini juga memperlihatkan darimana Anggota FPI yang mengklaim dirinya sebagai Pembela Islam tetapi ternyata tatoan !!! Front Preman Indonesia ya ??? Hahaha

https://mobile.twitter.com/alifffatur/status/830438552857030656/photo/1

Jika anak anggota FPI didoktrin dengan jari tengah, anggota FPI yang berkedok Pembela Islam ternyata tatoan, makanya hasilnya adalah anggota FPI dengan motto “Membunuh atau Terbunuh” seperti foto di bawah ini !!! (sungguh mengerikan !!!)

https://mobile.twitter.com/Cak_Luth/status/813633565061582848/photo/1

Pak HT yang terhormat, mohon jangan marah pada penulis yang membongkar bahwa Anda sebagai seorang yang “murtad” seperti yang dimuat dalam situs salah satu pendukung Anies-Sandi saat ini.

Sssssst, Pak HT saya mau kasih info rahasia neh kepada Anda. Dewan Penasehat situs yang mengatakan Anda seorang yang murtad adalah teman seperjuangan Anda sendiri lho, yaitu sama-sama pendukung Anies-Sandi !!! Hahaha

Beliau adalah Farid Ahmad Okbah, seorang pendiri Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) dan salah seorang Dewan Penasehat situs Voa-Islam yang pernah diblokir oleh Kominfo karena mempunyai indikasi konten negatif seperti fitnah, provokasi, SARA, penghinaan simbol negara seperti yang diberitakan dalam media internasional perwakilan di Indonesia ini.

Pak HT, jika Anda ingin mengetahui sosok Farid Ahmad Okbah, yang “memprovokasi” umat untuk ikutan aksi 411 lalu, yang memuji pemberontak Suriah dan memuji Teroris ISIS, silahkan baca alam tulisan saya di https://seword.com/politik/benarkah-pendukung-teroris-berada-di-belakang-anies-bagian-3/.

Bagi pendukung Anies-Sandi yang selalu teriak lantang dengan mengatakan bahwa Ahok seorang “China kafir” lalu bagaimana dengan pendukung Anies-Sandi yaitu HT yang juga sebagai “China Kafir” + murtad lagi !!! Wkwkwkw

Maaf, tulisan ini bukan untuk menyudutkan etnis tertentu, tulisan ingin membuktikan “kemunafikan” para pendukung Anies-Sandi yang selalu teriak lantang bahwa Ahok sebagai “China Kafir” tetapi diam melihat pendukung Anies-Sandi yaitu HT yang juga seorang “China Kafir” dan Murtad lagi !!!! Wkwkw

Begitulah kura-kura sifat “kemunafikan” para pendukung Anies-Sandi…



Wassalam.

Kamis, 13 Juli 2017

Teganya Anies-Sandi Menipu Warga Bukit Duri: Dari Dukung Penggusuran Hingga DP 0 Rupiah yang Tinggal Kenangan




Penyesalan akan selalu datang belakangan. Itulah kalimat yang selalu terbukti di sepanjang sejarah hidup manusia, namun yang sekaligus kita tidak pernah belajar darinya. Dan kali ini penduduk DKI Jakarta, secara khusus warga Bukit Duri, yang harus belajar dari pengalaman pahit ini.

Setelah mati-matian mempertahankan lahan mereka, serta dimanfaatkan oleh kubu sebelah selama pilkada, pada akhirnya mereka tetapi digusur juga. Tetapi apa yang lebih menyakitkan bukanlah soal penggusuran, melainkan calon yang dulu mereka dukung supaya tidak ada penggusuran sekarang malah berbalik mendukung penertiban dengan cara menggusur[1]. Luar biasa memang komplotan tukang jual sprei ini. Pagi bilang anti antek kafir China, sore posting jualan obat China. Sungguh ‘terlalu’ kalau kata Bang Rhoma.

“Kuncinya adalah keberpihakan, bukan?”, kalimat nyaris ken*ut ini keluar dari mulut manis Anies yang sekarang entah kemana batang hidungnya. Tak ada lagi dukungan bagi masyarakat Bukit duri, tidak dari gubernur terpilih, juga dari partai pendukung mereka. Sekarang penduduk Bukit Duri tinggal sendiri. Mereka hanya dipakai untuk memenangkan pilkada DKI Jakarta. Setelahnya? Ya sudah, terima nasib saja.

Penderitaan warga Bukit duri tidak hanya sampai di situ. Setelah mereka direlokasi ke rusun, mereka berharap agar dapat diikutsertakan dalam program DP 0 rupiah supaya rusun yang dihuni saat ini bisa menjadi hak milik. Sayang punya sayang, mantan terbang namun yang baru tak kunjung datang. Pasangan Anies yang manis menyatakan bahwa program DP 0 rupiah hanya dapat diikuti oleh mereka yang berpenghasilan minimal 7 juta hingga 10 juta rupiah[2]. Alamak, bagaimana dengan kami yang hanya sekitaran UMP? Bukankah kami yang dahulu memenangkanmu wahai Anies-Sandi?

Ya sudah, terima nasib saja. Sudah dibohongi, sekarang mau apa? Pilkada sudah lewat, Anies si kibul-kibul dan Sandi si okengoceh sudah terpilih. Belum dilantik saja topengnya sudah terkelupas sedikit demi sedikit, apalagi nanti ketika berkuasa penuh? Iiih syerem deh.

Ah, Ternyata Pembelajaran Kita Memang Pahit dan Mahal

Mungkin sekarang masyarakat pemilih Anies-Sandi yang sudah tertipu karena iming-iming mimpi mulai sadar dan gigit jari. Tapi tetap, bagi saya, kejahatan moral dan politik yang terbesar ada di pundak mereka berdua; terutama Anies Rasyid Baswedan. Dia mencoreng nama baik dari Kakeknya sendiri hanya demi nama dan kursi DKI.

Di mana keberpihakan kepada masyarakat kalangan bawah? Entahlah, yang pasti pendapatan minimal 7 juta per bulan sudah bukan masyarakat kelas bawah. Itu sudah pasti menengah. “Jadi di mana itu keberpihakannya Bang?”, Ah kamu, sudah tahu Anies itu suka bercanda kalau bicara, jangan dianggap seriuslah janji-janjinya. Frasa “Tenun Kebangsaan” saja sudah dia jadikan keset, masih mau percaya soal kata-kata yang lainnya di pilkada? Lebih baik dibawa tertawa saja, biar kamu tidak stres nantinya.

Sungguh, pilkada DKI Jakarta 2017 adalah yang terburuk di sepanjang sejarah demokrasi Indonesia (dan tentu bukan khilafah pula solusinya, karena para ekstrimis ini juga yang mendukung si okehopret itu). Ia menjadi etalase pendidikan politik terburuk bagi masyarakat. Karena kubu pemenang dan para tokohnya mengajarkan bahwa segala cara itu halal selama bisa mendapatkan apa yang diinginkan.

Kuatkan hatimu kawan, karena yang terburuk belum datang walau pasti. Selamat tinggal APBD DKI. Belum resmi dilantik saja, sudah marak beredar info di lapangan bahwa antusiasme pemegang KJP untuk mencairkan saldo ke dalam bentuk tunai mulai ramai[3]. Semenjak dipastikan Ahok berhenti akibat vonis penjara, sebagian “warga” Jakarta bagaikan kuda yang dilepaskan dari tali kusirnya.

Jangan Hibur Aku, Tak Ada yang Manis Hari ini bagi Seorang Zomblo (lho?!)

Akhir kata dari saya bagi para pembaca (Seword). Malang memang, mayoritas warga Jakarta telah diperdaya untuk berbondong-bondong merobohkan pagar yang selama ini melindungi mereka dari rampok-rampok anggaran. Dan pagar itu bernama Ahok.

Mereka merubuhkannya hanya untuk menemukan bahwa para serigala telah bersiap di luar sana, mengejar, mengoyak dan merong-rong segala kebaikan yang dahulu sudah diatur sedemikian rupa demi kemajuan mereka sendiri. Memang tragis, tapi mau bagaimana lagi? Waktu yang telah lama pergi tak dapat diputar kembali, sayang.

Tak ada penghiburan lagi bagiku hari ini, selain semangkuk mie instan yang kubeli sambil mengingat betapa manisnya dulu janjimu untukku. Tapi sekarang di mana engkau, wahai penjaja nestapa berkedok asa dan cita? Ku seruput kuah di mangkukku sampai habis. Ah, terasa asin sekali hingga lidahku kering rasanya. Tapi biarlah, bagiku itu lebih baik, jauh lebih baik. Setidaknya untuk mengobati hatiku yang saat ini terasa tawar dan hambar.

Terima kasih cinta atas angan-angan yang dulu pernah ada, namun yang sekarang telah sirna. Tapi tak apa, karena sedari dulu aku sudah tahu kalau kamu itu memang… penipu.

Maju garongnya, bahagia kampretnya .

Rabu, 12 Juli 2017

Dari 1998 Sampai 2017, Amien Rais Masih Bicara Pelengseran Presiden




Hari ini mendengar pernyataan Amien Rais terkait pembacokan terhadap Hermansyah benar-benar membuat saya geli. Geli sekali melihat orang Indonesia yang selalu berpikir negatif kepada Presidennya sendiri. Tapi di sisi lain saya juga jadi muak, karena Amien Rais selalu mempersepsikan seolah-olah negara ini diambang kehancuran.

“Ahli IT ITB dibacok, berdarah-darah. Semakin anarkis. Rakyat bisa marah kepada pemerintah. Jangan anggap enteng. Pak Harto yang jauh lebih kuat dari Jokowi saja, ketika rakyat marah, sudah selesai. Ini Bung Jokowi jauh lebih lemah dibandingkan Pak Harto, Bung Karno dan lainnya. Pak Jokowi jangan main api, dia itu Lurah Indonesia,” kata Amien Rais.

Presiden diminta jangan main api atas kasus penikaman Hermansyah? Maksudnya Presiden terlibat dalam hal ini? haha untuk apa Presiden ikut campur soal kasus mesum dan pornografi? Lah wong Ahok saja yang dulu pernah jadi Wakilnya tidak dibela sampai sebegitu naifnya. Lalu untuk apa bermain api dengan kasus mesum dan selangkangan? Nggak ada urusan!

Jadi emosi ya? Tapi kalau dipikir-pikir sebenarnya memang begitulah Amien Rais. Orang ini dulunya merupakan sosok di balik lengsernya Soeharto. 1998, sejarah mencatat bagaimana Jakarta rusuh dan mahasiswa berhasil menduduki DPR.

“Presiden Soeharto sudah kehilangan legitimasinya karena rakyat sudah tidak percaya lagi kepadanya, sehingga hari-harinya sudah bisa dihitung. Karena itu, tetap jaga terus persatuan dan kesatuan. Jangan mau dipecah-pecah,” kata Amien disambut teriakan gegap gempita mahasiswa. (1998).

Jadi kalau sekarang Amien Rais mengungkit tentang Pak Harto yang dianggap lebih kuat dari Jokowi saja bisa dilengserkan, kita tak perlu menantang atau membantahnya. Beliau dulunya memang aktifis dan sosok di balik lengsernya Soeharto. Beliau juga sosok di balik lengsernya Presiden yang sekaligus ulama besar Indonesia, Gus Dur.

Namun yang menjadi pertanyaan saya, kenapa Amien Rais dari tahun 1998 sampai sekarang masih memiliki pemikiran dan sudut pandang yang sama tentang pemerintah Indonesia? selalu negatif, yang dibahas selalu lengser melengserkan, selalu menganggap negara kita ini sedang kritis.

Bagaimana mungkin soal kasus pembacokan, satu dari sekian ratus kasus di Indonesia, dijadikan alasan untuk mengingatkan bahwa Presiden Jokowi tidak sekuat Soeharto dan berarti akan lebih mudah dilengserkan? Ada banyak kasus pembunuhan ataupun upaya pembunuhan yang terjadi di negeri ini, tetapi tidak pernah ada satupun orang yang mengaitkannya dengan pelengseran Presiden.

Saya jadi teringat dengan pernyataan Amien Rais saat rupiah bergerak liar mendekati 14,000 perdollar. “Pak Jokowi dan Jusuf Kalla harus membuat musyawarah nasional dengan mengundang semua lembaga tinggi negara dan pimpinan TNI, Polri dan semua tokoh KIH dan KMP dan intelektual. Undang LSM dan pimpinan media untuk bersama duduk untuk menyepakati untuk bersatu demi Indonesia karena saat ini kita sudah sangat kritis,” kata Amien.

Padahal kenyataannya harga rupiah terhadap dollar itu masih tergolong normal, karena semua negara mengalaminya. Dan sekarang terbukti, tanpa musyawarah nasional, ekonomi Indonesia bergerak positif. Sektor industri, pariwisata, pertambangan dan sebagainya meningkat positif.

Musyawarah nasional hanyalah jalan dari terbentuknya opini bahwa Presiden tidak mampu memimpin negeri ini. Dan bisa ditebak, agenda selanjutnya adalah pelengseran Presiden atas nama rakyat. Rakyat tidak percaya.

Jujur saya kasihan dengan Amien Rais. Saat Gus Dur sudah menjadi tokoh nasional yang kalimat-kalimat bijaknya sering dikutip dan dijadikan perekat kebhinekaan, Amien Rais masih berbicara soal melengserkan Presiden, seperti yang dikatakannya saat dulu menjadi bagian dari pelengseran Gus Dur.

Amien Rais beberapa waktu lalu masih berdemo turun ke jalan bersama Rizieq. Amien Rais juga sempat mengunjungi Rizieq yang kini buron dan kabur ke Arab Saudi. Kasihan sekali. Apalagi disebut-sebut terlibat dalam kasus korupsi Alkes.

Tetapi ya sudahlah, sepertinya itu memang jalan hidup yang dipilih seorang Amien Rais. Dari 1998 sampai 2017 masih bicara soal pelengseran Presiden. 

Begitulah kura-kura.



Sumber

Selasa, 11 Juli 2017

Heboh PHK HT Kepada Karyawan Sindo: Mana janjimu sejahterakan rakyat Pak Hary Tanoe?




Merdeka.com - Puluhan karyawan Koran Sindo Biro Jawa Tengah mendatangi Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kota Semarang, Jalan Ki Mangun Sarkoro Kota Semarang, Jawa Tengah Selasa (11/7). Kedatangan mereka untuk melaporkan tindakan perusahaan yang melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sepihak terhadap puluhan karyawannya itu.

Selain melapor kepada Disnakertrans tentang nasib mereka yang di-PHK sepihak tanpa pesangon sesuai undang-undang, mereka juga menggelar aksi keprihatinan di Halaman Kantor Disnakertrans.

Dalam aksi itu, puluhan karyawan Koran Sindo Jateng membawa sejumlah spanduk bertuliskan tuntutannya. Seperti tolak PHK Sepihak! Berikan Pesangon Sesuai Undang-Undang! Mana Janjimu Ingin Sejahterakan Rakyat, Pak HT??? serta tuntutan-tuntutan lainnya.

Puluhan peserta aksi itu juga mengalungkan seragam Koran Sindo di leher sebagai simbol bahwa karyawan dianggap budak perusahaan yang dapat diperlakukan seenaknya oleh perusahaan.

"Lawan ketidakadilan terhadap Jurnalis dan Insan Media! Lawan Kedzoliman Para Pemilik Modal! Berikan Hak Kami Sesuai Undang-Undang," teriak para peserta aksi.

Koordinator Aksi, Agus Joko Mulyono mengungkapkan, aksi tersebut merupakan buntut dari PHK yang dilakukan perusahaan milik Hary Tanoesoedibjo itu. Perusahaan lanjut Agus telah dzalim dengan melakukan PHK tanpa memberikan hak-haknya kepada karyawan.

"Ini terjadi di seluruh biro Koran Sindo di Indonesia. Semua karyawan yang di PHK tidak diberikan haknya sesuai undang-undang. Untuk biro Koran Sindo Jateng, sampai saat ini ada 28 karyawan yang nasibnya tidak jelas karena belum mendapatkan kepastian soal pesangon," ucap Agus.

Agus menerangkan kronologi PHK karyawan Koran Sindo Jateng. Proses PHK itu terjadi pada tanggal 5 Juni 2017 lalu. Saat itu, sejumlah direksi dan HRD Koran Sindo pusat mendatangi Jateng untuk mengumumkan bahwa Biro Jateng tutup dan karyawannya di PHK.

"Yang jadi persoalan, saat itu kami dipanggil satu-satu dan perusahaan mengatakan tidak bisa memberi pesangon. Mereka hanya menjanjikan tali asih atau istilahnya santunan sebanyak 4 kali gaji," terangnya.

Hal itu langsung ditolak oleh sebagian besar karyawan Koran Sindo Jateng. Mereka bersikukuh menuntut haknya yakni mendapatkan pesangon sesuai Pasal 156 atat 2 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Sehingga dalam pertemuan pertama itu, terjadi deadlock.

"Setelah perundingan itu, kami menunggu kepastian untuk negosiasi ulang. Namun bukannya negosiasi, kami mendapat surat PHK dan sebagian dimutasi ke Jakarta, sehari sebelum Idul Fitri," ungkap pria mengabdikan dirinya di Koran Sindo Jateng sejak 2006 itu.

Selain itu, tindakan perusahaan lanjut Agus juga semakin menunjukkan tidak adanya itikad baik. Perusahaan seolah menghindar untuk membayar pesangon dengan cara menawarkan atau memutasi karyawan ke tempat lain. Beberapa bahkan dimutasi ke Jakarta tanpa tugas dan hak yang jelas.

"Mutasi itu hanya akal-akalan perusahaan, supaya kami tidak nyaman dan mengundurkan diri dan tidak dapat menuntut pesangon. Itu tindakan jahat perusahaan dan akan terus kami lawan," tegasnya.

Pihaknya lanjut Agus sudah berupaya mengundang perusahaan Koran Sindo untuk melakukan perundingan dua pihak (bipartit) dengan karyawan terkait besaran pesangon. Namun setelah dua kali diundang dan perusahaan tidak hadir, akhirnya karyawan memutuskan untuk melaporkan masalah ini ke Disnakertrans Kota Semarang.

"Karena sudah dua kali diundang dan mereka (perusahaan) tidak datang, kami laporkan masalah ini ke Disnakertrans untuk difasilitasi terkait perundingan tiga pihak (tripartit), yakni karyawan, perusahaan dan Disnakertrans. Kami berharap Disnakertrans dapat menjadi mediator perselisihan hubungan industrial antara kami dengan perusahaan," tegasnya.

Agus membeberkan sebenarnya pihaknya tidak keberatan dengan PHK yang dilakukan perusahaan. Asalkan hak-hak karyawan diberikan dengan baik dan sesuai undang-undang.

"Ini kan tidak. Kami di PHK sepihak, tidak diberi pesangon sesuai undang-undang dan justru perusahaan membuat kami kebingungan dengan strategi mutasi yang dilakukan," ucapnya.

Ditegaskan Agus, pihaknya hanya berharap perusahaan memberikan hak karyawan berupa pesangon sesuai undang-undang ketenagakerjaan. Jika nantinya dalam perundingan tripartit tidak menemukan hasil memuaskan, pihaknya siap membawa masalah ini ke Pengadilan Hubungan Industrial (PHI).

"Kalau memang nanti tripartit kembali deadlock, kami siap berjuang di pengadilan. Kami tegaskan, semua akan kami lakukan untuk mendapatkan hak-hak kami dan melawan ketidakadilan oleh perusahaan," pungkasnya.




KPK Didukung Penuh Nahdlatul Ulama, DPR Makin Terpojok, Koruptor E-KTP Siap Siap Masuk Bui



KPK sebagai sebuah lembaga pemberantas korupsi di Indonesia, sekarang sedang menghadapi situasi yang berat. Berbagai pihak menginginkan lembaga yang satu ini harus segera dibubarkan karena dianggap tak berguna. Pembaca setia Seword tentu paham siapa yang menghendaki KPK dibubarkan, karena wacana ini sudah sejak beberapa tahun yang lalu, dan selalu dia yang mengucapkannya.

Sebagai orang yang masih waras, tentu kita mengharapkan bukan pembubaran KPK yang terjadi, tetapi justru kebalikannya yang kita harapkan. KPK makin diperkuat, agar KPK dapat menindak pelaku-pelaku korupsi yang tak jera-jera juga menjarah uang negara.

Kini berbagai perlawanan terhadap KPK datang terus menerus. Terutama dari DPR-RI yang menghendaki lembaga KPK diamputasi agar tak punya taring lagi. Pansus Hak Angket KPK yang dibentuk atas prakarsa Fahri Hamzah dan sebagian anggota DPR tersebut kini mencoba mendapatkan legitimasi dari masyarakat. Berbagai pakar diundang untuk memberikan pendapat bahwa Pansus Hak Angket KPK adalah legal. Padahal pakar-pakar yang diundang tentu saja sebelumnya sudah memberikan opini bahwa Pansus Hak Angket KPK tidak menyalahi aturan. Dan mereka tidak akan pernah mengundang pakar-pakar yang kontra terhadap mereka. Mereka tidak akan pernah mengundang Mahfud M.D dan Jimly Asshiddiqie misalnya.

Bagaimana kita tidak menduga bahwa Pansus Hak Angket KPK hanya sekedar ingin mendelegitimasi keberadaan lembaga KPK? Karena sebagai mana kita tahu bahwa Ketua Pansus Hak Angket KPK saja terdapat konflik kepentingan di sana. Bagaimana tidak, Jika Ketua Pansus sendiri termasuk dalam daftar dugaan penerima aliran dana kasus korupsi mega proyek e-KTP? Dan kita tahu hari ini, Ketua Pansus Hak Angket KPK sedang diperiksa dalam kasus tersebut.

Hanya orang-orang yang ingin koruptor di Indonesia bisa leluasa menjarah uang negara tanpa dihukum saja yang menginginkan KPK dibubarkan. Atau Kewenangan KPK diamputasi. Tentu kita sebagai orang yang waras tidak termasuk di dalamnya. Kita justru ingin KPK tambah kuat, agar para koruptor-koruptor yang telah menjarah uang negara tanpa merasa berdosa tersebut dapat dijatuhi hukuman yang setimpal dengan perbuatan mereka yang telah menyengsarakan rakyat.

Salah satu ormas terbesar di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama hari ini, Selasa (11/07/2017) telah menyatakan dukungan penuh kepada KPK. Bahkan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Ketum PBNU) Said Aqil Siroj memberi dukungan kepada KPK yang belakangan kerap mendapat serangan. Menurutnya, PBNU siap berjihad melawan korupsi bersama KPK.

“NU sudah ada kesepakatan dengan KPK untuk mengadakan jihad melawan korupsi,” tutur Said Aqil saat ditanya wartawan tujuannya mendatangi KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Selasa (11/7/2017).

“Walhasil kami memberikan dukungan moral pada KPK yang akhir-akhir ini dalam posisinya yang sedang terdesak, sedang banyak dikelitikin, banyak dianggap tidak perlu atau kurang berfungsi. Kami tetap mendukung di belakang KPK, sampai hari ini negara butuh KPK. Karena harapan ini rakyat,” imbuhnya.

Selain Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj yang menyatakan dukungan penuh kepada KPK, Putri Almarhum Gus Dur, Yenny Wahid juga menyatakan dukungan penuh kepada KPK.

“Saya di sini untuk memberikan dukungan kepada KPK. Kita tidak ingin adanya pelemahan terhadap KPK. Justru kita harus memastikan fungsi dan peran KPK harus diperkuat sehingga cita-cita kita bersama bangsa Indonesia ini untuk tidak ada korupsi di negara ini itu bisa tercapai,” ujar Yenny Wahid

Dengan dukungan penuh dari Nahdlatul Ulama kepada KPK, semakin membuat kita percaya dan yakin bahwa KPK sekarang ini bukanlah sebuah lembaga yang tidak berguna seperti yang dikatakan oleh Fahri Hamzah. Karena tidak mungkin NU akan mendukung sebuah lembaga yang tidak berguna. Karena kita tahu NU sekarang ini adalah sebuah ormas yang dengan sepenuh hati menjaga keutuhan NKRI. Sebuah ormas yang tidak ingin negara yang dicintainya ini digerogoti oleh oknum-oknum penjarah uang negara. Sehingga NU terus mendukung KPK untuk memenjarakan para koruptor yang tak tahu diri itu.

Dukungan yang diterima oleh KPK dari NU ini menyiratkan bahwa adalah sesuatu yang salah dengan DPR RI sekarang ini. Apalagi kita tahu bahwa DPR RI sekarang sedang menjadi sorotan akibat dari kasus dugaan korupsi mega proyek e-KTP, karena beberapa oknum anggota DPR terlibat di dalamnya. Dukungan NU ini secara tidak langsung menyatakan bahwa apa yang telah dilakukan oleh KPK sudah pada jalan yang benar. Dan jika DPR macam-macam dengan KPK, maka NU merupakan garda terdepan untuk membela KPK.

Dukungan NU kepada KPK ini, saya yakin akan membuat DPR keok.




Sabtu, 08 Juli 2017

BREAKING NEWS!!! Istri Jenderal Penampar Petugas Bandara Ditetapkan Sebagai Tersangka




TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penyidik Polresta Manado telah menetapkan Joice Ansoy Warouw sebagai tersangka penganiayaan ringan.

Sebelumnya, Joice Warouw menampar dua petugas Aviation Security (Avsec) Bandara Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara, Rabu (5/7/2017).

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono mengatakan pemeriksaan Joice yang dilakukan penyidik Polresta Manado di Mapolda Metro Jaya, Jumat (7/7/2017) dalam kapasitasnya sebagai tersangka.

"Kemudian Kapolresta Manoda sudah menyampaikan yang bersangkutan sebagai tersangka dan sudah ada tujuh saksi lebih lah," ujar Argo kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Sabtu (8/7/2017).

Belakangan diakui Mabes Polri, bahwa Joice Warouw merupakan istri Brigjen Johan Angelo Sumampouw perwira tinggi yang berdinas di Lemhanas dan memasuki masa pensiun.

Argo menjelaskan, pemeriksaan terhadap Joice di Mapolda Metro Jaya pada Jumat kemarin hanya sebatas meminjam tempat.
Penyidik yang melakukan pemeriksaan berasal dari Polresta Manado.

"Kemudian kemarin karena ini jadi sorotan publik, akhirnya karena yang bersangkutan tinggal di Jakarta sehingga meminjam tempat di Polda Metro ini," katanya.

Lanjut dia, ada tiga penyidik dari Polresta Manado yang datang ke Polda Metro Jaya dan memeriksa Joice sebagai tersangka.

"Kemudian untuk selanjutnya, (ditangani) dari Polresta Manado," katanya.

Sebelumnya Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Setyo Wasisto mengatakan, pemeriksaan Joice Warouw di Mapolda Metro Jaya adalah dalam kapasitasnya sebagai saksi pelapor dan tersangka.

"Dua-duanya nanti akan dimintai keterangan, Ibu itu juga sebagai saksi, juga sebagai tersangka lah, terduga tersangka," ujar Setyo, Jumat kemarin.

Tribunnews telah beberapa kali menghubungi Kapolresta Manado, Kombes Hisar Sialligan, untuk mengkonfirmasi tentang penetapan tersangka Joice Warouw ini.

Namun, ia belum mengangkat panggilan telepon tersebut.

Diberitakan, sebagaimana video yang tersebar luas, Joice yang belakangan diketahui istri Brigjen Johan Angelo Sumampouw, terlibat keributan dengan dua petugas perempuan Avsec, saat pemeriksaan barang bawaan di Bandara Sam Ratulangi Manado, Sulawesi Utara, Rabu (5/7/2017) pagi.

Keributan bermula saat dua petugas Avsec, JWH dan AM, meminta Joice untuk melepas jam tangan saat melewati pintu pemeriksaan barang bawaan metal detector.

Tak terima dengan cara petugas Avsec tersebut, Joice menampar wajah petugas.

Selanjutnya, keduanya saling melapor ke
Polsek Bandara Sam Ratulangi.

Korban melaporkan Joice atas sangkaan melakukan penganiyaan.

Sementara, Joice melaporkan petugas Avsec tersebut atas sangkaan melakukan perbuatan tidak menyenangkan.

Selanjutnya, kedua kasus tersebut ditangani Polresta Manado.

Perbuatan pengiayaan yang tidak mengakibatkan luka atau hambatan pada pekerjaan si korban, pelaku bisa dikenakan Pasal 352 KUHP tentang penganiayaan ringan.
Pelaku terancam hukuman pidana paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak Rp 4.500.



Jumat, 07 Juli 2017

Kasus Istri Jenderal Belum Selesai, Giliran Avsec Soekarno Hatta Yang Kena Tampar Penumpang



Belum juga usai sorotan publik terhadap kasus penamparan wajah aviation security Bandara Sam Ratulangi Manado, hari ini kembali terjadi kasus serupa di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Banten. Joice pelaku di Sam Ratulangi sempat bragging bahwa dia adalah istri seorang jenderal bintang satu, dan memang suaminya adalah seorang brigadir jenderal yang berdinas di Lemhanas, sebelum menampar seorang petugas bernama Jemy W Hantouw. Joice sendiri sudah dipanggil untuk dimintai keterangan.

Nah untuk kasus di Bandara Soekarno Hatta ini pelakunya seorang laki-laki berusia 56 tahun yang menurut kabar merupakan seorang dokter militer. Cerita berawal saat warga Cempaka Putih, Jakarta Pusat, ini melewati pos pemeriksaan di Terminal IA Bandara Soekarno-Hatta. Saat AG melewati metal detector, lampu menyala. Petugas pun menahan AG untuk dilakukan pemeriksaan badan atau body search.

“Penumpang tersebut melakukan pemukulan kepada petugas kami,” ujar Security Rescue & Fire Senior Manager Bandara Soekarno-Hatta, Tommy Bawono

Sumber: http://megapolitan.kompas.com/read/2017/07/07/22092951/dokter.militer.diduga.tampar.petugas.keamanan.bandara.soekarno-hatta

Informasi terakhir yang didapat, lelaki yang diduga dokter militer tersebut tengah menjalani pemeriksaan di SPKT Polresta Khusus Bandara Soekarno-Hatta.

Saya ini heran dengan kelakuan orang-orang ini sekarang. Sebegitu mudakah tangan melayang hingga terjadi peristiwa kekerasan seperti ini? Dan melihat dua kasus yang terjadi secara berurutan ini menurut saya baik pelaku maupun korban tak lagi memandang jenis kelamin.

Prosedur keamanan di bandara memang ketat. Biasanya jika saat kita lewat detector berbunyi kita disuruh mundur beberapa langkah untuk kemudian maju lagi. Kalau masih berbunyi baru dilakukan body search. Dan body search itu sudah sesuatu yang prosedural dilakukan. Sekarang masak Anda mau jika misalnya terbang bersama orang yang tak lolos security checking bandara? Bagaimana misalnya jika Ia teroris yang hendak membajak pesawat atau melakukan sesuatu yang membahayakan?

Dan saya herannya lagi, selama ini kita sering mengasosiakan kekerasan dan premanisme macam ini sebagai ulah orang tak terdidik atau orang-orang yang rendah status sosialnya. Ini dokter militer lho dan yang satunya nyonya jenderal. Bayangkan lingkup pergaulan dan status ekonomi serta pendidikan mereka seperti apa. Ini membuktikan sekali lagi, money cant buy you class.

Dan khusus kejadian hari ini, saya penasaran, apa si Bapak tak mendengar kehebohan yang terjadi kemarin di Sam Ratulangi sampai Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, turun tangan mengatakan proses hukum akan terus berjalan tanpa memandang status pelaku? Kenapa Ia tak belajar dari situ?


Kedua orang ini juga sudah cukup berumur, sudah umurnya jadi bapak-bapak dan ibu-ibu. Bukan lagi usia ABG labil yang susah mengontrol emosi. Kenapa untuk mereka susah sekali mengendalikan diri? Petugas bandara galak itu biasa terutama yang bertugas berkaitan dengan keamanan. Tapi apa yang mereka lakukan sesuai tupoksinya. Kalaupun tingkah mereka ada yang kelewatan, dua orang penampar ini bisa mengajukan komplain. Apalagi dengan status mereka, pasti didengar. Daripada mengotori dan mempermalukan dirinya sendiri seperti ini.

Sekarang jamannya sudah beda. Kalau sikap arogan dan petentang-petenteng mentang-mentang punya jabatan atau status sosial tertentu dan kemudian bersikap seenaknya terhadap orang lain belum tentu tak akan jadi masalah. Berita berkembang dan masyarakat makin belajar untuk bisa saling menghormati antar manusia lainnya.

Semoga saja dua orang ini hanya kebetulan tensinya sedang tinggi saja, jangan sampai di kehidupan sehari-hari hal seperti ini jadi kebiasaan mereka. Dan ini pembelajaran bagi kita semua. Kere maupun kaya, kalau ingin dihormati bersikaplah elegan. Dan marah yang tak terkontrol mengakibatkan kita bertingkah ‘gila’ yang akhirnya mempermalukan diri kita sendiri.

Dan untuk para aviation security tetaplah bekerja sesuai prosedur. Kalau benar jangan takut. Tidak ada yang bisa menghalangi kalian dalam melaksanakan tugas. Karena keamanan dalam penerbangan adalah nomer satu dan proses itu sudah dimulai sejak kita datang ke bandara, melewati security untuk masuk ke konter check in, hingga keluar di bandara tujuan.