Selasa, 11 Juli 2017

KPK Didukung Penuh Nahdlatul Ulama, DPR Makin Terpojok, Koruptor E-KTP Siap Siap Masuk Bui



KPK sebagai sebuah lembaga pemberantas korupsi di Indonesia, sekarang sedang menghadapi situasi yang berat. Berbagai pihak menginginkan lembaga yang satu ini harus segera dibubarkan karena dianggap tak berguna. Pembaca setia Seword tentu paham siapa yang menghendaki KPK dibubarkan, karena wacana ini sudah sejak beberapa tahun yang lalu, dan selalu dia yang mengucapkannya.

Sebagai orang yang masih waras, tentu kita mengharapkan bukan pembubaran KPK yang terjadi, tetapi justru kebalikannya yang kita harapkan. KPK makin diperkuat, agar KPK dapat menindak pelaku-pelaku korupsi yang tak jera-jera juga menjarah uang negara.

Kini berbagai perlawanan terhadap KPK datang terus menerus. Terutama dari DPR-RI yang menghendaki lembaga KPK diamputasi agar tak punya taring lagi. Pansus Hak Angket KPK yang dibentuk atas prakarsa Fahri Hamzah dan sebagian anggota DPR tersebut kini mencoba mendapatkan legitimasi dari masyarakat. Berbagai pakar diundang untuk memberikan pendapat bahwa Pansus Hak Angket KPK adalah legal. Padahal pakar-pakar yang diundang tentu saja sebelumnya sudah memberikan opini bahwa Pansus Hak Angket KPK tidak menyalahi aturan. Dan mereka tidak akan pernah mengundang pakar-pakar yang kontra terhadap mereka. Mereka tidak akan pernah mengundang Mahfud M.D dan Jimly Asshiddiqie misalnya.

Bagaimana kita tidak menduga bahwa Pansus Hak Angket KPK hanya sekedar ingin mendelegitimasi keberadaan lembaga KPK? Karena sebagai mana kita tahu bahwa Ketua Pansus Hak Angket KPK saja terdapat konflik kepentingan di sana. Bagaimana tidak, Jika Ketua Pansus sendiri termasuk dalam daftar dugaan penerima aliran dana kasus korupsi mega proyek e-KTP? Dan kita tahu hari ini, Ketua Pansus Hak Angket KPK sedang diperiksa dalam kasus tersebut.

Hanya orang-orang yang ingin koruptor di Indonesia bisa leluasa menjarah uang negara tanpa dihukum saja yang menginginkan KPK dibubarkan. Atau Kewenangan KPK diamputasi. Tentu kita sebagai orang yang waras tidak termasuk di dalamnya. Kita justru ingin KPK tambah kuat, agar para koruptor-koruptor yang telah menjarah uang negara tanpa merasa berdosa tersebut dapat dijatuhi hukuman yang setimpal dengan perbuatan mereka yang telah menyengsarakan rakyat.

Salah satu ormas terbesar di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama hari ini, Selasa (11/07/2017) telah menyatakan dukungan penuh kepada KPK. Bahkan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Ketum PBNU) Said Aqil Siroj memberi dukungan kepada KPK yang belakangan kerap mendapat serangan. Menurutnya, PBNU siap berjihad melawan korupsi bersama KPK.

“NU sudah ada kesepakatan dengan KPK untuk mengadakan jihad melawan korupsi,” tutur Said Aqil saat ditanya wartawan tujuannya mendatangi KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Selasa (11/7/2017).

“Walhasil kami memberikan dukungan moral pada KPK yang akhir-akhir ini dalam posisinya yang sedang terdesak, sedang banyak dikelitikin, banyak dianggap tidak perlu atau kurang berfungsi. Kami tetap mendukung di belakang KPK, sampai hari ini negara butuh KPK. Karena harapan ini rakyat,” imbuhnya.

Selain Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj yang menyatakan dukungan penuh kepada KPK, Putri Almarhum Gus Dur, Yenny Wahid juga menyatakan dukungan penuh kepada KPK.

“Saya di sini untuk memberikan dukungan kepada KPK. Kita tidak ingin adanya pelemahan terhadap KPK. Justru kita harus memastikan fungsi dan peran KPK harus diperkuat sehingga cita-cita kita bersama bangsa Indonesia ini untuk tidak ada korupsi di negara ini itu bisa tercapai,” ujar Yenny Wahid

Dengan dukungan penuh dari Nahdlatul Ulama kepada KPK, semakin membuat kita percaya dan yakin bahwa KPK sekarang ini bukanlah sebuah lembaga yang tidak berguna seperti yang dikatakan oleh Fahri Hamzah. Karena tidak mungkin NU akan mendukung sebuah lembaga yang tidak berguna. Karena kita tahu NU sekarang ini adalah sebuah ormas yang dengan sepenuh hati menjaga keutuhan NKRI. Sebuah ormas yang tidak ingin negara yang dicintainya ini digerogoti oleh oknum-oknum penjarah uang negara. Sehingga NU terus mendukung KPK untuk memenjarakan para koruptor yang tak tahu diri itu.

Dukungan yang diterima oleh KPK dari NU ini menyiratkan bahwa adalah sesuatu yang salah dengan DPR RI sekarang ini. Apalagi kita tahu bahwa DPR RI sekarang sedang menjadi sorotan akibat dari kasus dugaan korupsi mega proyek e-KTP, karena beberapa oknum anggota DPR terlibat di dalamnya. Dukungan NU ini secara tidak langsung menyatakan bahwa apa yang telah dilakukan oleh KPK sudah pada jalan yang benar. Dan jika DPR macam-macam dengan KPK, maka NU merupakan garda terdepan untuk membela KPK.

Dukungan NU kepada KPK ini, saya yakin akan membuat DPR keok.




Sabtu, 08 Juli 2017

BREAKING NEWS!!! Istri Jenderal Penampar Petugas Bandara Ditetapkan Sebagai Tersangka




TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penyidik Polresta Manado telah menetapkan Joice Ansoy Warouw sebagai tersangka penganiayaan ringan.

Sebelumnya, Joice Warouw menampar dua petugas Aviation Security (Avsec) Bandara Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara, Rabu (5/7/2017).

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono mengatakan pemeriksaan Joice yang dilakukan penyidik Polresta Manado di Mapolda Metro Jaya, Jumat (7/7/2017) dalam kapasitasnya sebagai tersangka.

"Kemudian Kapolresta Manoda sudah menyampaikan yang bersangkutan sebagai tersangka dan sudah ada tujuh saksi lebih lah," ujar Argo kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Sabtu (8/7/2017).

Belakangan diakui Mabes Polri, bahwa Joice Warouw merupakan istri Brigjen Johan Angelo Sumampouw perwira tinggi yang berdinas di Lemhanas dan memasuki masa pensiun.

Argo menjelaskan, pemeriksaan terhadap Joice di Mapolda Metro Jaya pada Jumat kemarin hanya sebatas meminjam tempat.
Penyidik yang melakukan pemeriksaan berasal dari Polresta Manado.

"Kemudian kemarin karena ini jadi sorotan publik, akhirnya karena yang bersangkutan tinggal di Jakarta sehingga meminjam tempat di Polda Metro ini," katanya.

Lanjut dia, ada tiga penyidik dari Polresta Manado yang datang ke Polda Metro Jaya dan memeriksa Joice sebagai tersangka.

"Kemudian untuk selanjutnya, (ditangani) dari Polresta Manado," katanya.

Sebelumnya Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Setyo Wasisto mengatakan, pemeriksaan Joice Warouw di Mapolda Metro Jaya adalah dalam kapasitasnya sebagai saksi pelapor dan tersangka.

"Dua-duanya nanti akan dimintai keterangan, Ibu itu juga sebagai saksi, juga sebagai tersangka lah, terduga tersangka," ujar Setyo, Jumat kemarin.

Tribunnews telah beberapa kali menghubungi Kapolresta Manado, Kombes Hisar Sialligan, untuk mengkonfirmasi tentang penetapan tersangka Joice Warouw ini.

Namun, ia belum mengangkat panggilan telepon tersebut.

Diberitakan, sebagaimana video yang tersebar luas, Joice yang belakangan diketahui istri Brigjen Johan Angelo Sumampouw, terlibat keributan dengan dua petugas perempuan Avsec, saat pemeriksaan barang bawaan di Bandara Sam Ratulangi Manado, Sulawesi Utara, Rabu (5/7/2017) pagi.

Keributan bermula saat dua petugas Avsec, JWH dan AM, meminta Joice untuk melepas jam tangan saat melewati pintu pemeriksaan barang bawaan metal detector.

Tak terima dengan cara petugas Avsec tersebut, Joice menampar wajah petugas.

Selanjutnya, keduanya saling melapor ke
Polsek Bandara Sam Ratulangi.

Korban melaporkan Joice atas sangkaan melakukan penganiyaan.

Sementara, Joice melaporkan petugas Avsec tersebut atas sangkaan melakukan perbuatan tidak menyenangkan.

Selanjutnya, kedua kasus tersebut ditangani Polresta Manado.

Perbuatan pengiayaan yang tidak mengakibatkan luka atau hambatan pada pekerjaan si korban, pelaku bisa dikenakan Pasal 352 KUHP tentang penganiayaan ringan.
Pelaku terancam hukuman pidana paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak Rp 4.500.



Jumat, 07 Juli 2017

Kasus Istri Jenderal Belum Selesai, Giliran Avsec Soekarno Hatta Yang Kena Tampar Penumpang



Belum juga usai sorotan publik terhadap kasus penamparan wajah aviation security Bandara Sam Ratulangi Manado, hari ini kembali terjadi kasus serupa di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Banten. Joice pelaku di Sam Ratulangi sempat bragging bahwa dia adalah istri seorang jenderal bintang satu, dan memang suaminya adalah seorang brigadir jenderal yang berdinas di Lemhanas, sebelum menampar seorang petugas bernama Jemy W Hantouw. Joice sendiri sudah dipanggil untuk dimintai keterangan.

Nah untuk kasus di Bandara Soekarno Hatta ini pelakunya seorang laki-laki berusia 56 tahun yang menurut kabar merupakan seorang dokter militer. Cerita berawal saat warga Cempaka Putih, Jakarta Pusat, ini melewati pos pemeriksaan di Terminal IA Bandara Soekarno-Hatta. Saat AG melewati metal detector, lampu menyala. Petugas pun menahan AG untuk dilakukan pemeriksaan badan atau body search.

“Penumpang tersebut melakukan pemukulan kepada petugas kami,” ujar Security Rescue & Fire Senior Manager Bandara Soekarno-Hatta, Tommy Bawono

Sumber: http://megapolitan.kompas.com/read/2017/07/07/22092951/dokter.militer.diduga.tampar.petugas.keamanan.bandara.soekarno-hatta

Informasi terakhir yang didapat, lelaki yang diduga dokter militer tersebut tengah menjalani pemeriksaan di SPKT Polresta Khusus Bandara Soekarno-Hatta.

Saya ini heran dengan kelakuan orang-orang ini sekarang. Sebegitu mudakah tangan melayang hingga terjadi peristiwa kekerasan seperti ini? Dan melihat dua kasus yang terjadi secara berurutan ini menurut saya baik pelaku maupun korban tak lagi memandang jenis kelamin.

Prosedur keamanan di bandara memang ketat. Biasanya jika saat kita lewat detector berbunyi kita disuruh mundur beberapa langkah untuk kemudian maju lagi. Kalau masih berbunyi baru dilakukan body search. Dan body search itu sudah sesuatu yang prosedural dilakukan. Sekarang masak Anda mau jika misalnya terbang bersama orang yang tak lolos security checking bandara? Bagaimana misalnya jika Ia teroris yang hendak membajak pesawat atau melakukan sesuatu yang membahayakan?

Dan saya herannya lagi, selama ini kita sering mengasosiakan kekerasan dan premanisme macam ini sebagai ulah orang tak terdidik atau orang-orang yang rendah status sosialnya. Ini dokter militer lho dan yang satunya nyonya jenderal. Bayangkan lingkup pergaulan dan status ekonomi serta pendidikan mereka seperti apa. Ini membuktikan sekali lagi, money cant buy you class.

Dan khusus kejadian hari ini, saya penasaran, apa si Bapak tak mendengar kehebohan yang terjadi kemarin di Sam Ratulangi sampai Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, turun tangan mengatakan proses hukum akan terus berjalan tanpa memandang status pelaku? Kenapa Ia tak belajar dari situ?


Kedua orang ini juga sudah cukup berumur, sudah umurnya jadi bapak-bapak dan ibu-ibu. Bukan lagi usia ABG labil yang susah mengontrol emosi. Kenapa untuk mereka susah sekali mengendalikan diri? Petugas bandara galak itu biasa terutama yang bertugas berkaitan dengan keamanan. Tapi apa yang mereka lakukan sesuai tupoksinya. Kalaupun tingkah mereka ada yang kelewatan, dua orang penampar ini bisa mengajukan komplain. Apalagi dengan status mereka, pasti didengar. Daripada mengotori dan mempermalukan dirinya sendiri seperti ini.

Sekarang jamannya sudah beda. Kalau sikap arogan dan petentang-petenteng mentang-mentang punya jabatan atau status sosial tertentu dan kemudian bersikap seenaknya terhadap orang lain belum tentu tak akan jadi masalah. Berita berkembang dan masyarakat makin belajar untuk bisa saling menghormati antar manusia lainnya.

Semoga saja dua orang ini hanya kebetulan tensinya sedang tinggi saja, jangan sampai di kehidupan sehari-hari hal seperti ini jadi kebiasaan mereka. Dan ini pembelajaran bagi kita semua. Kere maupun kaya, kalau ingin dihormati bersikaplah elegan. Dan marah yang tak terkontrol mengakibatkan kita bertingkah ‘gila’ yang akhirnya mempermalukan diri kita sendiri.

Dan untuk para aviation security tetaplah bekerja sesuai prosedur. Kalau benar jangan takut. Tidak ada yang bisa menghalangi kalian dalam melaksanakan tugas. Karena keamanan dalam penerbangan adalah nomer satu dan proses itu sudah dimulai sejak kita datang ke bandara, melewati security untuk masuk ke konter check in, hingga keluar di bandara tujuan.



Makin Menggila, Kali Ini Pelapor Kaesang Polisikan Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto






Ternyata analisa saya bahwa orang ini mengidap penyakit jiwa ringan benar adanya. Muhammad Hidayat, sang pelapor Kaesang ke Polisi soal ucapan ndeso di Video Blog Video Blog (Vlog) Kaesang yang berjudul #BapakMintaProyek di YouTube itu kembali bikin ulah.

Hari ini kembali dia tergopoh-gopoh menuju kantor Markas Polresta Bekasi untuk membuat laporan baru. Kali ini laporannya tidak tanggung-tanggung. Pihak yang akan dia laporkan adalah Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto terkait film pemenang Police Movie Festival “Aku Adalah Kau yang Lain”.
Dengan tergesa-gesa, dia berupaya masuk ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) di Polres Bekasi, namun petugas di Polres Bekasi bilang ke dia lapor aja ke Mabes Polri.

Mungkin petugasnya bosan lihat mukanya yang puluhan kali datang lapor ke Polres Bekasi sesuka hatinya sehingga mengusirnya dengan halus dengan cara menyarankannya untuk melapor ke Mabes Polri saja.

Saya juga heran entah dapat dari mana ide gila tersebut dalam batok kepalanya untuk mempolisikan Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto, mungkin harapannya kali ini laporannya akan bikin Indonesia lebih heboh lagi daripada sekedar laporannya tentang Kaesang.

“Saya bermaksud melaporkan 3 ujaran kebencian dan penodaan agama. Yang pertama, yang terkait dengan film ‘Aku Adalah Kau yang Lain’. Yang mau saya laporkan itu, satu, Kadiv Humas Mabes Polri sebagai yang bertanggung jawab mempublikasikan, menyebarluaskan di media sosial akun di Humas Polri ya,” ujarnya dengan mantap.

Selain Irjen Setyo yang dia laporkan, dia juga berencana akan melaporkan pembuat film tersebut, mulai dari Sutradara sampai para pemainnya.

“Ada sutradara, produsernya, para pemain, dan seterusnya. Karena mereka memproduksi itu dengan mengetahui bahwa ini akan menimbulkan sentimen di masyarakat, akan menimbulkan keresahan,” ujarnya dengan mantap.

Kok tidak sekalian sama penontonnya sekalian juga dilaporin supaya penjara penuh. Asli keblinger nih orang. Kerjaannya hanya bikin laporan Polisi melulu, lalu berhalusinasi ingin ngetop dan terkenal di seluruh Indonesia. Kayak tidak ada kerjaan lain aja.

Orang kurang waras kalau diladenin ya akan begini jadinya. Ngelunjak. Mungkin selama hidupnya si bapak ini tidak punya tujuan hidup yang pasti, makanya ketika tua jadi agak-agak kurang waras sedikit. Dalam skala tertentu, orang seperti si bapak Hidayat ini perlu kontrol sosial di panti sosial.

Polisi juga seharusnya dari awal tegas dan dapat membedakan mana orang waras dan mana orang kurang waras yang datang bikin ulah di kantor Polisi. Namanya juga orang kurang waras, diladenin ya semakin menjadi-jadi dengan cara bikin sensasi semau-maunya.

Saya yang tadinya sebel lihat model manusia kayak gini, sekarang kok malah jadi ngakak dan terhibur dengan ulahnya yang lucu nan kocak. Mungkin bapak Hidayat ini masa kecilnya kurang bahagia kepingin banget jadi Polisi tapi gagal, jadinya ya rada-rada gitu deh ke kantor Polisi melulu kerjaannya.

Bayangkan saja, anak Presiden dia laporin ke Polisi, eh kini giliran Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto yang dia laporin ke Polisi. Cari penyakit nih orang. Nanti lama-lama, Tito Karnavian, Gatot Nurmantyo, sampai Presiden Jokowi semuanya dia laporin ke Polisi. Salah pidato dikit aja, langsung dia laporin ke Polisi. Sibuk mencari-cari kesalahan orang lain.

Dengan akan dilaporkannya Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto ke Polisi, berarti ini laporannya yang ke 62. Bayangkan dari Januari sampai Juni sudah 60 laporan Polisi yang dia buat. Di bulan Juli 2017 ini sudah satu laporan, yaitu melaporkan Kaesang. Rencana melaporkan Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto akan menjadi laporannya yang ke 62. Layak masuk MURI.

Mungkin karena akibat kebanyakan ilmu, otak pun jadi konslet. Jadi orang mbok ya mendingan perbanyak amal dan ibadah, berpikir yang sehat dan jernih. Kasihan anak istri dan keluarganya. Harusnya, kalau boleh saya saran, dipasung di gudang aja daripada tidak henti-hentinya bikin malu.

Coba bayangkan, hari ini aja dia sudah dua kali bolak balik ke kantor Markas Polresta Bekasi, yang pertama ngamuk-ngamuk di kantor Polres Bekasi karena laporannya soal Kaesang dihentikan Polisi. Terus yang kedua, balik lagi ke kantor Polres Bekasi untuk melaporkan Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto soal Video “Aku Adalah Kau yang Lain”. Apa nggak sableng?

Sudah kayak orang minum obat antibiotik aja. Kalau tidak laporin orang ke Polisi, mungkin badannya meriang kali ya. Beginilah tipikal Alumni tukang demo pada umumnya, gerombolan kebencian. Contoh orang yang tidak kuat mendalami agama, jadi gila.

Hidup kalau penuh dengan kebencian, negatif thinking, ya begini jadinya, kerjaannya cuma suudzon dan melaporkan orang terus.

Kayaknya cocok jadi asistennya Vicky Prasetyo aka Vickynisasi kalau diusung PAN jadi Walikota Bekasi agar bisa menjalin komunikasi tanpa basa-basi dalam rangka sinkronisasi dan harmonisasi untuk mencegah kriminalisasi dan konspirasi tentang imunisasi dan vaksinasi yang sudah basi wkwkwk.

Begitulah kura-kura.




Rabu, 05 Juli 2017

Hidayat Pelapor Kaesang Ternyata Tersangka Ujaran Kebencian, Nggak Sekalian Laporin Tukul Yang Suka Ngomong ‘Dasar Ndeso’?





Saya pengen ketawa ngakak sore ini. Ternyata Muhammad Hidayat pelapor Kaesang Pangarep yang dianggapnya menyebarkan kebencian dengan kata-kata ‘dasar ndeso’ adalah tersangka kasus ujaran kebencian dan kasusnya sedang diproses di Polda Metro Jaya.


“Pelapor akun Kaesang ini memang sudah ditetapkan tersangka oleh Polda Metro atas dugaan ujaran kebencian juga,” kata Kapolresta Bekasi, Kombes Pol Hero Henriato Bachtiar.

“Pelapor akun Kaesang ini memang sudah ditetapkan tersangka oleh Polda Metro atas dugaan ujaran kebencian juga,”

“Masih berjalan terus. Dia terkena pasal ujaran kebencian pada aksi 411 lalu, karena mengolok-olok anggota polri,”



Yaelah Pak ternyata malah diri Anda sendiri yang sudah jadi tersangka pengumbar kebencian. Ini kok jadinya kayak “maling teriak maling” ya.

Saya masih pada prinsip apa yang dikatakan Kaesang di video #BapakMintaProyek itu bukan ujaran kebencian, menyinggung SARA, menodakan agama, atau apapun tuduhan dan opini yang ingin dituduhkan Hidayat ke Kaesang. Omongan Kaesang itu fakta kok dan bisa ditelusuri kebenarannya. Mana ada yang salah dengan mengungkapkan fakta.

Apalagi kalau sekedar masalah kata-kata “dasar ndeso!“. Oalah Pak Hidayat kayaknya Bapak butuh piknik beneran kalau perlu piknik ke Pluto deh karena kata dasar ndeso itu kalau dianggap melanggar hukum dan merupakan ujaran kebencian bisa-bisa komedian Tukul Arwana itu sudah dipenjara seumur hidup saking seringnya ngomong ‘dasar ndeso‘ dengan ekspresi khas dan bibirnya yang seksi memukau nan fenomenal itu di acara Bukan Empat Mata atau banyak momen lainnya.

Nggak ada yang salah dengan kata-kata ‘dasar ndeso’ itu. itu semacam istilah saja. Kenapa situ tersinggung? Ngerasa kalau situ melakukan hal-hal yang dibahas Kaesang dan nggak terima dibilang ndeso? Oalah Pak Pak….

Kalau orang sensitif banget sampai kata-kata ‘dasar ndeso’ aja membuat dirinya datang ke kantor polisi buat ngelaporin orang, fix orang ini pasti nggak bisa disenggol sama sekali dalam kehidupan bermasyarakat. Untung sudah tua, coba kalau masih muda dan pas silaturahmi Lebaran ditanya sama saudaranya “kapan nikah? gak punya pacar? yek nggak laku” pasti Saudaranya itu akan langsung dilaporkan ke kepolisian juga. Atau kalau misalnya Hidayat ini cewek terus ketemu teman lama atau pacarnya bilang “eh kamu gendutan ya” saya yakin dengan berurai air mata dia akan langsung bikin laporan kepolisian sambil nangis mingsek-mingsek “aku tuh nggak bisa diginiin, Pak Polisi“.

Dan ternyata tak sekali ini Hidayat demen ngelaporin orang ke kepolisian. Duh Pak jangan nambah-nambahi kerjaan polisi cuma buat ngurusi bapernya Bapak aja deh. Ia pernah melaporkan Ade Armando dan sutradara Anto Galon.

Sebelumnya, Muhammad Hidayat menjelaskan dirinya sudah banyak laporan yang dilayangkan olehnya, tetapi, baru kali ini proses laporannya ditindaklanjuti secara cepat.

“Saya sudah banyak melaporkan dugaan kesalahan yang dilakukan di media sosial dan lainnya, tetapi kenapa laporan yang kali ini bisa cepat diproses?”


Sumber: http://www.tribunnews.com/nasional/2017/07/05/hidayat-heran-laporannya-soal-putra-jokowi-cepat-diproses-polisi-kapolres-bilang-urusan-dia

Saya sih setuju teruskan saja proses kasus ini. “Lo jual, gue beli!” kasarnya begitu. Nanti juga akan ketahuan siapa yang masuk akal dan tidak. Cuma kalau nanti Kaesang tidak terbukti melakukan ujaran kebencian, tampaknya orang seperti Hidayat ini butuh diberi pelajaran. Sudah nggak jamannya “yang waras ngalah” karena trendnya sekarang yang waras justru jadi kalah-kalahan. Jadi saran saya buat Kaesang, setelah kasus ini dinyatakan tak terbukti laporkan untuk pencemaran nama baik atau tuduhan palsu.



Dan untuk Pak Hidayat jangan playing victims ya kalau nanti tuduhan Anda tak terbukti. Warga Perumnas 1 Bekasi ini ngakunya sih sudah siap dengan konsekuensi yang akan diterimanya.

“Ya tentu ada (ketakutan), bukan takut lah istilahnya tapi kita jadi jaga-jaga,”

“Saya siap bertanggung jawab dunia akhirat. Kalau saya enggak siap enggak usah melaporkan,”

“Saya gak takut besok saya bisa digebukin preman. Bagi saya mati digebukin jalanan lebih baik daripada mati di diskotik,”

Sumber : http://www.tribunnews.com/nasional/2017/07/05/laporkan-kaesang-putra-jokowi-ke-polisi-hidayat-tidak-takut-jika-dipukuli-preman

Kayaknya sih kalau preman yang mau nggebukin nggak ada Pak, cuma kalau ditertawakan satu Indonesia atau nantinya malah masuk bui sendiri ya jangan balik memainkan isu kriminalisasi masyarakat oleh Rezim Jokowi ya.


Semangat Kaesang, may the force be with you!



Minggu, 02 Juli 2017

SAKITNYA TUH DISINI!!! Sandiaga Ultah, Instagramnya Malah 'Dibanjiri' Ucapan HUT Ahok





Suara.com - Wakil Gubernur terpilih DKI Jakarta Sandiaga Salahuddin Uno, berulang tahun ke-48 pada pekan ini, persisnya tanggal 28 Juni.

Untuk memperingati ultahnya tersebut, Sandi—sapaan beken Sandiaga Uno—mendapat kejutan berupa pemberian kue tart dari keluarganya.

Momen kejutan tersebut terekam video dan diunggah olehnya ke akun pribadi Instagram miliknya, @sandiuno, Jumat (30/6/2017).

"Surprise kue ulang tahun dari keluarga," tulis @sandiuno.

Unggahan video tersebut dan sejumlah foto Sandi tengah meniup lilin kue ultah mendapat banyak respons dari pengikutnya.

Selain mengucapkan selamat ultah, tak jarang warganet justru menyindir Sandi.

Warganet, melalui kolom komentar unggahan itu, justru mengucapkan selamat ultah kepada mantan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Pasalnya, selang sehari, Ahok yang tengah berada di dalam penjara juga berulang tahun. Ia berulang tahun ke-51 pada tanggal 29 Juni, selang sehari setelah Sandi.

“Selamat Ulang Tahun Pak @basukibtp meskipun terlambat, bapaklah yang terbaik, Ahok,” tulis akun @eddiepramana di kolom komentar.

“Selamat ultah Pak @basukibtp, semoga semakin ditinggikan lagi derajatnya dengan segala fitnah-fitnahan membuat Pak Ahok makin matang dan panutan sejati meski teraniaya,” tulis akun @iam2lus.

Sementara akun @hendyimut mengucapkan selamat ultah kepada Sandi, dan berharap pasangan Gubernur terpilih DKI Anies Baswedan itu meniru Ahok.

“Selamat ultah Pak Sandi. Semoga di umur yang sekarang anda banyak belajar tentang integritas, kesederhanaan, kejujuran dan jadi diri sendiri seperti @basukibtp.”

Hal yang sama juga diutarakan sejumlah warganet lainnya.

“Kayaknya banyak yang salah akun nih. Happy Bday Pak @basukibtp,” tulis @lian_kaawoan.

“Cie..cie..yang dapat kejutan dari keluarga. Selamat ultah ya Pak @basukibtp, semoga panjang umur sehat selalu,” tutur akun @wahyoe_71.

“Ya ampun Pak Sandiaga ultah. Okelah kalau begitu, met ulang tahun Pak @basukibtp, semoga tetap menjadi orang jujur,” tulis akun @ridwan_abriansyah.

Sedangkan sejumlah warganet mengomentari banyaknya warganet yang justru mengucapkan selamat kepada Ahok di unggahan Sandiaga.

“Sakitnya tuh di...,” tulis @aue_fuk_gwang. ”Sadis, ha-ha-ha,” tutur akun @rmnopexLahwalah. ”Ha-ha-ha-ha, nyesek amat,” tutur @angelbellarl.



Sumber

Sabtu, 01 Juli 2017

Kenapa PKS “Sewot” Ketika Teroris Ditembak Mati Oleh Polisi ?


Pada saat umat Islam merayakan Hari Raya Idul Fitri 1438 H, terjadi aksi terorisme di Medan yang menyerang Mapolda Sumatera Utara (Sumut). Polisi lalu menyelidiki rumah si pelaku dan menemukan bendera teroris ISIS di rumah pelaku. (Sumber).

Dan dua hari yang lalu, setelah melakukan shalat isya, dua orang polisi kembali mengalami aksi teror karena ditusuk oleh teroris di mesjid lapangan Bhayangkara, Mabes Polri.
Astaghfirullah…..

Mereka sudah berani menyerang aparat negara (polisi) yang selama ini bertugas mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan rakyat Indonesia. Bisa dibayangkan bagaimana jika polisi tidak bekerja keras selama ini untuk menjaga keamanan kita sebagai rakyat Indonesia ???

Jika Polisi dan beberapa pihak terkait tidak bekerja keras selama ini, mungkin entah apa yang akan terjadi di Indonesia karena teroris bebas melakukan aksi teror mereka yang dibungkus dengan kedok agama.

Seharusnya kita bersyukur bahwa aparat negara selama ini sudah bekerja keras untuk menjamin keselamatan dan keamanan kita, sehingga kita bisa mencari nafkah demi keluarga yang sangat kita cintai.

Tapi anehnya, ketika teroris menyerang aparat negara (polisi), politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang bernama Nasir Djamil malah “sewot” karena polisi akhirnya menembak mati teroris tersebut. (Sumber).



Nasir Djamil, Politisi PKS

Kenapa politisi PKS yang bernama Nasir Djamil malah “sewot” setelah polisi menembak mati teroris yang menyerang aparat negara ???

Kemana suara politisi PKS yang bernama Nasir Djamil saat Mapolda di Sumatera Utara (Sumut) diserang oleh teroris ???

Padahal Nasir Djamil merupakan politisi PKS kelahiran Medan (Sumatera Utara), tetapi malah tidak ada “suaranya” saat Mapolda Sumatera Utara diserang oleh teroris saat hari Raya Idul Fitri 1438 H minggu lalu ???

Dari sikap politisi PKS yang “sewot” karena polisi menembak mati teroris yang menyerang aparat negara, pembaca setia di Seword sudah bisa menilai sendiri siapa pendukung polisi dan siapa pendukung teroris di Indonesia tercinta ini.

Mungkin rakyat Indonesia secara umum dan pembaca setia di Seword secara khusus pasti bertanya-tanya kenapa PKS terkesan lebih “membela” teroris daripada membela aparat negara (polisi) yang diserang oleh teroris ???

Penulis akan membagikan sebagian kecil info tentang PKS dan “hubungannya” dengan teroris berikut ini :

1. Hidayat Nur Wahid (HNW) pernah “cari muka” dengan mengatakan mengutuk aksi terorisme yang menyerang Mapolda Sumatera Utara (Sumut) pada saat hari Raya Idul Fitri 1438 H, tepatnya pada tanggal 25 Juni 2017 lalu.

Tetapi Hidayat Nur Wahid (HNW) juga yang mengatakan bahwa teroris jangan ditembak mati !!!

Pembaca setia di Seword dan rakyat Indonesia bisa melihat sendiri bagaimana sifat “kontradiktif” HNW yang pernah menjabat sebagai Presiden PKS beberapa tahun yang lalu dan sekarang menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Syuro PKS yang merupakan lembaga tertinggi dalam PKS periode 2015-2020 seperti yang sudah penulis bahas di https://seword.com/politik/ketika-hidayat-nur-wahid-wakil-ketua-majelis-syuro-pks-panik-dalam-kasus-rizieq/.


Penulis bingung melihat sikap HNW yang merupakan salah satu elit PKS saat ini. Disatu sisi, HNW mengatakan “mengutuk” aksi terorisme yang menyerang Mapolda Sumut, dimana salah satu pelaku terorisme tersebut sudah ditembak mati dan jenazahnya ditolak di kampungnya (sumber), tetapi HNW pernah mengatakan jangan menembak mati teroris ??? (Sumber).

2. Jika HNW yang merupakan Wakil Ketua Majelis Syuro PKS, dan Wakil Ketua MPR pernah mengatakan jangan menebak mati teroris beberapa waktu yang lalu, sekarang politisi PKS, Nasir Djamil juga menunjukkan sikap yang sama yaitu merasa “sewot” ketiak teroris ditembak mati oleh polisi setelah teroris tersebut menyerang polisi yang merupakan aparat negara.

Dari kedua pernyataan elit PKS di atas, terdapat kesamaan yaitu PKS tidak setuju jika teroris ditembak mati !!!

Apakah Pembaca setia di Seword merasa “keberatan” jika teroris yang melakukan aksi teror dan menembak aparat ditembak mati oleh polisi (aparat negara) ???

Apakah rakyat Indonesia merasa “keberatan” jika teroris yang melakukan aksi teror dan menembak aparat ditembak mati oleh polisi (aparat negara) ???

Jika ada pembaca setia di Seword dan rakyat Indonesia ingin mengetahui lebih lanjut tentang sosok politisi PKS yang bernama Nasir Djamil, silahkan klik di https://seword.com/politik/membongkar-sosok-nasir-djamil-politisi-pks-yang-menjilat-kpk/.

3. Beberapa “kasus” antara kader PKS dengan Terorisme yang sudah penulis bahas di https://seword.com/politik/melawan-lupa-beberapa-kader-pks-dan-keluarga-dalam-kasus-teroris/

Sekarang pembaca setia di Seword dan seluruh rakyat bisa menilai sendiri apa dan siapa itu PKS dan “hubungannya” dengan terorisme…

Sssssttttt, penulis memberikan bonus berupa informasi yang “disembunyikan” oleh PKS selama ini, bahwa ayah (mantan) Ketua Majelis Syuro PKS yang sekarang tinggal di “istana” di kawasan lembang merupakan seorang pemberontak seperti yang sudah penulis bahas di https://seword.com/politik/melawan-lupa-ayah-mantan-ketua-majelis-syuro-pks-adalah-pemberontak/.

Wassalam,