Sidang dugaan penistaan agama telah memasuki minggu ke-17. Pada sidang itu ada beberapa video yang diputar sebagai bahan pembelaan terhadap Ahok. JPU memutar video rekaman pidato Rizieq tentang surat Al-Maidah. Video tersebut adalah barang bukti penasihat hukum Ahok untuk dibandingkan dengan video pidato Ahok di Kepulauan Seribu yang juga mengutip surat Al-Maidah 51.
Dalam video tersebut, diperlihatkan Rizieq menjelaskan Al-Maidah 52, yang dianggap sebagai kunci polemik legalitas memilih pemimpin muslim bagi umat Islam. “Setelah Allah mengatakan, hai orang-orang yang beriman, jangan kalian pilih mengambil orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin. Barang siapa menjadikan pemimpin, maka kamu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim,” kata Rizieq di video tersebut.
“Ada yang mengatakan, kalau kita nggak pilih dia, nanti program pembangunan macet. Kalau nggak pilih dia, program pemerataan dan kesejahteraan masyarakat macet, nggak pilih dia rakyat sengsara kelaparan. Nanti kalau nggak pilih dia, musibah buat kita. Saya tanya ada nggak yang ngomong seperti itu?” tanya Rizieq.
Dan ini yang menarik. Rizieq menilai, jika Allah sudah mengambil keputusan, orang-orang munafik akan menyesal kelak. “Ya siapa tahu Ahok keputusan-Nya disambar geledek, siapa yang tahu? Allah bisa ambil keputusan kapan saja. Jangan-jangan Allah kirim satu orang, dibunuh Ahok. Bisa jadi juga tuh,” sumpahnya.
Hanya satu pertanyaan saya, mengapa Rizieq yang disebut ulama bisa-bisanya menyumpahi orang seperti itu? Menyumpahi seperti itu sama sekali bukan sikap yang terpuji. Saya sungguh heran dengan beberapa orang yang mengatakan Ahok mulutnya kotor, suka marah-marah, suka menghina. Intinya Ahok bermulut comberan, begitulah yang saya sering baca di media sosial. Sekarang coba lihat kembali sumpah serapah yang diucapkan Rizieq, dan silakan nilai sendiri.
Dan mirisnya membawa-bawa nama Tuhan untuk menyumpahi seseorang. Bukankah doa itu kalau yang jelek-jelek dan berniat mencelakai orang akan kembali ke diri sendiri? Dulu ada seorang teman yang suka menyumpahi dan mengumpat. Tiap kali tidak senang dengan orang, maka dia akan memaki-maki dan mengatakan, “Kalau aku kaya, sudah mati kau jadi bangkai.” Pokoknya ucapannya mirip-mirip seperti itu. Intinya dia ingin menyampaikan pesan, kalau sudah kaya, maka orang yang dibencinya akan tahu rasa. Karena dia belum kaya (belum punya power atau koneksi), makanya tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa maki-maki.
Dan pada suatu hari ada seorang bapak-bapak yang mengatakan begini pada dia, “Kau belum kaya saja hatimu sudah begini. Gimana Tuhan mau kabulkan permohonanmu jadi kaya? Kalau Tuhan kabulkan, berarti Dia mendukung apa yang kau perbuat.”
Perkataannya membuat saya merenung. Bagaimana mungkin Tuhan akan kabulkan permohonan kita yang tidak baik, di mana kita berniat mencelakai dan menginginkan orang lain mampus? Rasanya tidak mungkin Tuhan akan mendukung niat jahat kita, yang ada malah kita yang kualat. Berharap semoga orang lain mampus, apalagi bawa-bawa nama Tuhan? Pusing banget deh.
Penasihat hukum Ahok Humphrey mengatakan, “Kan di situ kelihatan kebencian dari Rizieq kepada Pak Ahok. Ada kata-kata biar kesamber geledek, atau ada yang bunuh. Padahal kan dia ahli agama, ahli agama harus bersikap imparsial, bersikap sebagai ahli agama yang tidak punya rasa kebencian.” Dia menuturkan bahwa pernyataan Rizieq membuktikan dia sangat membenci Ahok.
Waduh Pak Humphrey, itu bukan lagi namanya kebencian, tapi sudah merasuk hingga ke tulang-tulang dan jiwa raga, lalu berubah bentuk menjadi dendam kesumat yang sudah mendidih hingga melebihi titik didih. Kalau hanya sekadar benci, rasanya tidak akan sampai menyumpahi seperti ini. Ahok sudah dari dulu menjadi biang virus yang ingin dijegal dan dihentikan dengan berbagai cara. Saat Ahok menggantikan Jokowi sebagai Gubernur, terjadi aksi penolakan yang berujung ricuh. Siapa yang bikin rusuh? Tiga huruf itulah. Bahkan saking tidak relanya Ahok jadi Gubernur, mereka mengangkat gubernur tandingan, yang sekarang entah di mana.
Dari tahun 2014 menolak Ahok hingga sekarang. Bayangkan berapa lama ketidaksukaan itu menumpuk. Sedikit demi sedikit ketidaksukaan itu berubah jadi kebencian, lalu memuncak jadi dendam. Tak heran sih kalau mereka ngotot agar Ahok gagal di putaran kedua, bila perlu dijegal saja ditengah jalan dengan kasus yang sedang dihadapi Ahok. Kalau masih tidak mempan, masuk akal juga kalau memakai jurus sumpah serapah biar Ahok mampus.
Saya sudah malas sebenarnya membahas pernyataan-pernyataan Anies yang isinya hanya berupa pembodohan, kebohongan dan cacat-cacat fakta serta logika yang disengaja. Namun, setiap kali mendegar si oke ini ngoceh, selalu timbul satu rasa tidak rela untuk membiarkan pernyataan-pernyataan culasnya begitu saja. Karena si oke-ngoceh ini selalu menyampaikan pemutar-balikan fakta dan logika dengan begitu percaya diri, padahal dia tahu dia sedang menyatakan propaganda yang memecah belah, juga dia tahu bahwa muatan pernyataannya kaya akan fitnah. Ibaratnya sudah tahu di depanmu ada orang yang sedang menyeberang, tapi kamu tancap gas terus. Nalar dilibas dan nurani digilas.
Mengingat Anies maka seharusnya kita mengingat Hitler dan teknik propagandanya. Salah satunya adalah propaganda tentang “Kebohongan besar” (Jerman: große Lüge) yang merupakan sebuah teknik propaganda yang pernah diciptakan oleh Adolf Hitler ketika ia mendiktekan bukunya yang sangat terkenal, Mein Kampf, pada 1925.
Pada buku tersebut, Hitler mengungkapkan dengan sangat berapi-api tentang bagaimana sekelompok orang yang dia tuduhkan (orang-orang keturunan Yahudi di Jerman pada saat itu) telah menciptakan sebuah kebohongan yang sangat besar dan kolosal. Hitler mengklaim bahwa merekalah (kaum keturunan Yahudi) yang telah menjadi penyebab dari jatuhnya pimpinan politik tertinggi dan jenderal besar Jerman yang sangat dikagumi pada saat itu. Tuduhan itu diperparah dengan narasi kebencian yang lagi-lagi menuduh warga keturunan Yahudi sebagai biang kerok dari ketidakstabilan politik dan ekonomi Jerman akibat kekalahan mereka di Perang Dunia yang pertama. Jikalau Engkau Mengatakan Sebuah Kebohongan yang Cukup Besar, dan Mengatakannya Cukup Sering, Maka Kebohongan itu Akan Dipercaya – Adolf Hitler, (terjemahan bebas).
Propaganda kebencian dari Hitler terhadap salah satu ras inilah yang kelak dijadikan “bahan bakar” politiknya untuk menghidupkan mesin kediktatorannya. Ia menumbuhkan kebencian masyarakat terhadap satu ras sambil mengangkat ras yang lain sebagai kaum yang supreme, berderajat lebih tinggi, dan dinilai sebagai yang paling berhak serta paling pantas memimpin dunia.
Para pembaca Seword sudah bisa melihat pada titik ini bukan? Propaganda yang dilakukan kubu Anies-Sandi ini persis seperti apa yang dilakukan oleh mesin propaganda Hitler, dan sekarang hal tersebut sedang terjadi di Indonesia, khususnya Jakarta. Tapi numpang tanya, di mana akhirnya propaganda fasis-rasis itu berakhir selain daripada di Perang Dunia kedua? Tidak heran nanti pada video yang akan saya cantumkan di bawah, Anies disebut fasis oleh mantan rekannya sendiri. Dan itu memang betul karena sejarah sudah pernah bercerita tentang orang yang serupa. Senjata Politik Terbaik adalah Teror. Kekejaman akan Mengatur Rasa Hormat. Orang-orang Mungkin Akan Membenci Kami. Tetapi, Kami Tidak Butuh Cinta Mereka; yang Kami Butuhkan Hanyalah Ketakutan Mereka – Heinrich Himmler, Menteri Dalam Negeri dan Pimpinan Seluruh Korps Kepolisian Nazi di Era Hitler. (terjemahan bebas).
Namun untungnya masih banyak orang yang bernurani bersih di negeri kita. Justru semua kebohongan besar yang Anies-Sandi suarakan malah menuai perlawanan, termasuk dari rekan-rekan sejawat yang pernah mengenal keseharian mereka sebelumnya. Salah satunya adalah rekan Anies di Universitas Paramadina, Mohammad Monib. Beliau langsung angkat suara setelah menyaksikan pidato kebangsaan yang dibawakan Anies pada dua stasiun televisi nasional kemarin (03/04/2017).
Saya sangat yakin apa yang dirasakan oleh rekan-rekan sejawat Anies seperti Mohammad Monib ini juga dirasakan oleh banyak orang. Kebohongan yang begitu terstruktur, sistematis dan masif ini telah mencapai titik nadirnya, dan telah siap meluluh-lantahkan bangsa hingga titik terendahnya kalau terus dibiarkan. Dari seluruh narasi kampanye Anies-Sandi hingga kini, kita dapat menemukan bagaimana teknik-teknik propaganda yang mengerikan ada di sana. Selain “big lie” yang saya sebut di atas, masih ada trik-trik disinformasi lainnya yang dilakukan, seperti “dog whistle”, “half-truth”, “doublespeak” dan “false flag”.
Yang terbaru adalah bagaimana Anies menyalahkan para simpatisannya sendiri yang memasang 100 lebih spanduk “Jakarta bersyariah” dengan foto Anies-Sandi. Anies menyatakan bahwa itu semua fitnah yang dilakukan oleh kubu lawan untuk menyerang dirinya dan Sandi. Inilah yang dinamakan dengan teknik komunikasi politik false flag. Dia sendiri yang melakukan tetapi ia menuduh pihak lawan yang melakukannya, brengsek bukan?
Sebuah Kebohongan Ketika Disampaikan Satu Kali akan Tetap Menjadi Sebuah Kebohongan. Tetapi ketika Sebuah Kebohongan Disampaikan Seribu kali, itu Akan Menjadi Kebenaran – Joseph Goebbels, Menteri Propaganda Nazi di Era Hitler. (terjemahan bebas).
Masalahnya, tuduhan Anies-Sandi ini sulit diterima nalar ketika terang-terangan basis pendukung dan simpatisan Anies-Sandi selama ini memang kelompok-kelompok yang sangat amat terkenal dengan libidonya yang tinggi untuk menerapkan ideologi sektarian-radikal berkedok paham keagamaan yang sangat sempit. Kita akan lebih percaya bahwa simpatisan Anies-Sandi sendirilah yang melakukannya. Masa sebagai calon pemimpin tidak tahu basis massa pendukungnya sendiri? Anies kalau pura-pura tidak tahu ya tidak usah sampai sebegitunyalah.
Akhir kata dari saya bagi para pembaca (Seword). Ketika mengingat Anies, yang adalah Doktor bidang politik, saya menjadi tak heran mengapa ia bisa begitu menguasai teknik-teknik propaganda yang begitu tengik. Memang perlu kecerdasan yang cukup untuk memainkan semua komunikasi politik busuk ini dengan apik. Masyarakat tidak boleh diam dan mendiamkan. Kita harus bangkit, dan hanya satu kata “lawan!” yang pantas bagi para politisi busuk seperti Anies-Sandi. Kita tidak boleh diam, karena ketika kita semakin diam, Indonesia akan jatuh semakin dalam. Dan itu sangat menyedihkan.
Ada beragam topik menjadi bahan diskusi. Hangat dan bahkan memanasnya situasi politik dalam perhelatan Pilkada di DKI Jakarta menjadikan banyak orang melek politik, menjadi “pakar” politik ala warung kopi. Bukan hanya calon pemimpin saja yang berpolitik. Semua yang mendapatkan dampaknya baik secara langsung maupun tidak sudah bisa dikategorikan bagian dari dinamika politik itu sendiri.
Para calon dari kedua pasangan yang beradu gagasan dan terobosan brilian untuk DKI yang lebih maju dan sejahtera tak pernah lepas dari sorotan banyak pihak. Semuanya dipelototin habis-habisan. Itu bukan lantaran mereka kurang kerjaan melainkan sebagai wujud kepedulian untuk ikut berpartisipasi dalam mewujudkan impian bersama di atas.
Kalau para kandidat beserta timses serta para pendukung bersama partai penyokong begitu sibuk menyiasati lawan dan bahu-membahu menyukseskan kampanye sang jagoan, para pengamat politik juga mendapatkan tempatnya untuk bersuara. Tak ketinggalan pula, mereka yang meluangkan waktu dan pikiran untuk menyumbangkan ide lewat tulisan-tulisan bernada pencerahan (walau tak sedikit pula yang melangkahi kaidah tersebut demi keuntungan pribadi dan/atau kelompok tertentu). Singkatnya, semua pada sibuk.
Ketika Pilkada bukan hanya milik para elit politik
Mencermati peta politik di DKI akhir-akhir ini terutama sejak pasca debat Cagub dalam acara Mata Najwa minggu lalu, sudah terasa sekali aroma yang kian tajam. Di berbagai media digital telah dibahas dari berbagai dimensi mengenai fakta yang terjadi dan kemungkinan yang bisa berbuah kenyataan hingga hari -H pemilihan pada 19 April mendatang.
Waktu terus berpacu dan para kandidat berusaha melaju. Ada yang berjalan dengan beban yang semakin ringan dan ada pula yang justru memikul beban yang tak sedikit. Itulah dinamika politik karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Mencari sosok pemimpin yang berintegritas memang bukan perkara sulit karena rumit.
Para kandidat di Pilkda DKI seakan tak memiliki waktu untuk beristirahat; demikian pun mereka yang menjadi bagian dari perjuangan mereka tersebut. Mereka harus tegar dan menunjukkan integritasnya sebagai sosok yang layak diacungi jempol, bukan saja karena kata-katanya tetapi lebih pantas karena data-datanya, karena tindakannya.
Untuk itulah maka banyak yang membuka suara untuk membedah kepribadian atau karakter calon pemimpin yang lagi mempertontonkan diri di depan publik. Pilihan saya jatuh pada Bang Mohammad Sobary, seorang budayawan (yang mana menurut pengakuannya sendiri bahwa Anies Baswedan pernah menjadi anak buahnya di sebuah organisasi dan masih menganggapnya demikian) menjelaskan tentang pemimpin yang berintegritas:
“Si Ahok itu orang biasa. Dia hanya biasa (dengan) kerja keras! Dia hanya biasa mengabdi; dia hanya biasa melakukan apa yang layak dilakukan; dia biasa terbuka, tidak bohong! Hidupnya dikontrakkan. Dia tahu (bahwa dia) memiliki sensitifitas yang tinggi, meninggalkan kampungnya yang jauh di sana untuk menjemput nasib. Tetapi nasib (itu) menunggu(nya) di Jakarta…”
Dia melihat dalam diri seorang Ahok bukan dari status sosialnya tetapi dari karakternya yang sudah terbiasa mempraktekkan nilai-nilai kemanusiaan dalam kesehariannya. Dia telah menunjukkan siapa dirinya berdasarkan apa yang sudah biasa dia lakukan. Dia tidak mendua dan tidak bertopeng. Dia cukup menjadi dirinya sendiri!
“Dia hanya melakukan itu dengan kejujuran, dengan keterbukaan, dengan pengabdian. (Dia malah) dikritik oleh Anies (bahwa hal itu) tidak cukup. Saya (Anies) berfilsafat. Filsafatmu itu harus diterjemahkan ke dalam tindakan, menjadi (seperti apa) yang dilakukan Ahok. Ah, nggak perlu filsafat! karena tindakan Ahok melahirkan filsafat…”
Ahok tidak mengada-ada dan memang tidak suka mempertontonkan kepada publik yang bukan dirinya, yang bukan keasliannya. Dia hanya mau mengabdi dan menjadikan keadilan sosial sebagai tujuannya dengan mencurahkan segala daya dan upaya. Dia tak sibuk berteori, berceramah, berfilsafat karena dia hanyalah pelayan rakyat Jakarta. Tugasnya tak lain adalah mengadministrasi keadilan sosial di antara semua penduduk DKI. Biarkanlah orang lain yang mengakomodasi tindakan pelayanannya dalam bentuk teori. Setiap orang mengekspresikan keahliannya.
“Saya bisa buktikan tindakan Ahok itu melahirkan filsafat… (yakni) filsafat politik. Namanya apa? Good governance. (Berkaitan dengan) filsafat politik itu, Ahok tidak tahu (tentang) good governance. Dia nggak sekolah (yang) sofistikasi, omong kosong begitu. Itu urusannya profesor lah, urusan orang-orang terpelajar. Ahok nggak peduli! (karena) yang dia peduli ialah (bahwa dia) ingin hidup(nya) menjadi tangan Tuhan, sekedar tangan Tuhan, mengabdi. (Tetapi hal itu) dikritik oleh Anies.”
Selama ini, kepemimpinan Ahok dalam kesehariannya mengedepankan motto: Bersih, Transparan dan Profesional. Dengan merangkul erat prinsip integritas sebagai pegangan pribadi dan sebagai pelayan masyarakat DKI, dia tak melenggang jauh dari: Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Tetapi di atas semuanya itu, dia benar-benar membuktikan keyakinan akan imannya bahwa apa dan bagaimana pun hidupnya, tak lepas dari campur tangan yang Ilahi. Tuhan yang memberi, Dia pula yang mengambil. Di luar dari prinsip tersebut, berasal dari si jahat!
Teriring salam menjadi pemimpin adalah pelayan yang memberi diri seutuhnya!
Mengapa pasangan acara debat kandidat gubernur dan wakil gubernur Jakarta yang diselenggarakan program Kompas TV, semalam, tidak dihadiri pasangan Anies Baswedan - Sandiaga Uno akhirnya terjawab.
Melalui pernyataan tertulis yang diterima Suara.com, tim media center Anies-Sandiaga menyampaikan beberapa sikap.
Pertama, menurut tim media center, sampai detik terakhir, acara yang dimoderatori Rosianna Silalahi tidak pernah mendapatkan jawaban dari tim Anies-Sandiaga, tetapi program acara tersebut secara sepihak terus mengiklankan acara debat kandidat.
Kedua, Rosianna sudah dikabari sejak (27/3/2017 bahwa yang hadir adalah calon Sandiaga karena Anies seminggu sebelumnya sudah ada acara debat di Metro TV. Tapi, acara Kompas TV diiklankan terus menerus sebagai acara debat yang pertamakali antara kedua pasangan calon. Menurut tim media senter Anies-Sandaiga hal tersebut merupakan bentuk pengabaran yang tidak sesuai fakta. Pengiklanan oleh acara Rosianna dinilai tidak benar dan menjadi catatan khusus bagi tim Anies-Sandiaga.
Tim Anies-Sandiaga menilai acara Rosianna tidak taat etika.
Ketiga, di samping itu, tim Anies-Sandiaga menegaskan bahwa talk show harus fokus pada adu gagasan, bukan adu sorak antar pendukung.
"Kami ingin dialog antar calon di TV bukan untuk memperuncing suasana tapi menjadi kesempatan untuk mendiskusikan program. Karena itu tim Anies-Sandi meminta bahwa acara cukup dihadiri 30-50 undangan non pendukung paslon. Acara Rosi menolak permintaan tentang undangan terbatas itu dan menegaskan akan jalan terus, meskipun Kami sudah sampaikan resikonya adalah Bang Sandi tidak bisa hadir," demikian pesan tertulis tim media center.
Keempat, menurut tim media center ketika sudah jelas tidak ada kesepakatan dan Sandiaga jelas tidak hadir, acara Rosianna tetap saja mengiklankan bahwa dua pasang calon akan hadir.
Menurut tim media center itu sesuatu yang tidak seharusnya terjadi.
Kelima, menanggapi juru bicara tim Basuki-Djarot, Anies dan Sandi baik sebagai pasangan maupun sendiri-sendiri tidak pernah memiliki trauma terhadap debat. Bahkan, kata tim media center, sekitar seminggu sebelum ini, Anies membuktikan dominasi terhadap Ahok yang konon kekalahannya di debat itu disebabkan semata-mata karena Ahok sedang sakit gusi.
JAKARTA, KOMPAS.com - Pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur DKI Jakarta nomor pemilihan tiga, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, tidak hadir pada acara debat di program Rosi di Kompas TV, Minggu (2/4/2017).
Pembawa acara Rosiana Silalahi menyampaikan hal itu saat memulai acara. Ketika acara dimulai pada sekitar pukul 19.10 WIB, hanya pasangan calon gubernur dan wakil gubernur nomor pemilihan dua, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dan Djarot Saiful Hidayat, yang muncul dilayar televisi.
Rosi mengatakan, awalnya acara debat itu dirancang untuk dihadiri oleh dua pasangan cagub-cawagub DKI.
"Namun acara ini tidak sesuai rencana. Hingga siang tadi kami mendapat konfirmasi calon nomor tiga tidak hadir," kata Rosi, di acara yang digelar di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, itu.
Konfirmasi ketidakhadiran Anies-Sandi itu membuat penonton acara yang hadir jadi riuh. "Huuuu..," seru penonton.
Rosi mengatakan, acara akan tetap berlanjut. Namun, format acara diubah.
"Kami sudah berupaya agar di acara ini dua paslon bertemu. Tapi tim nomor tiga menyampaikan ketidakhadirannya," ujar Rosi.
Meski pasangan Anies-Sandi tidak hadir, Rosi mengucap terima kasih kepada Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.
"Terima kasih kepada Pak Prabowo Subianto yang sudah men-support acara ini," kata Rosi.
Pasangan Anies-Sandi didukung oleh Parta Gerindra.
Sandiaga saat dikonfirmasi Kompas.com pada sekitar pukul 16.30 tadi mengaku akan hadir di acara tersebut.
"Per sekarang sih jadwalnya saya masih konfirm," ujar Sandiaga.
Soal broadcast di media sosial atas nama Eep Saefulloh Fatah, yang menyebutkan Sandiaga tak hadir di acara itu, Sandiaga menyatakan akan menemui konsultan politiknya tersebut. "Ini saya mau ketemu beliau habis ini," ujar Sandiaga.
Namun, Sandiaga sempat menyinggung soal format debat Kompas TV. Sandiaga sebenarnya meminta tidak perlu menghadirkan pendukung. Ia khawatir ada saling ejek dan menimbulkan perpecahan.
"Jadi saya bilang kenapa gak dibuat formatnya talk show. Kita duduk di sofa saya sama Pak Djarot bersahabat baik," ujar Sandiaga.
Saat ditegaskan lagi apakah ia akan hadir bersama Anies, Sandiaga mengatakan yang hadir hanya dirinya.
"Ini konsepnya saya sama sama Pak Djarot karena Pak Anies sama Pak Basuki sudah kemarin," ujarnya.
Di tempat terpisah, Anies mengisyaratkan tidak akan menghadiri acara adu program Rosi Kompas TV.
Anies mengatakan acara tersebut sedianya akan dihadiri oleh calon wakil gubernur DKI, bukan calon gubernur.
"Oh debatnya (giliran calon) wagub," ujar Anies di Petojo Selatan, Minggu sore.
Ketika ditanya kembali apakah artinya dia tidak hadir, Anies hanya menggelengkan kepala. Acara debat Rosi di Kompas TV ini seharusnya dihadiri oleh dua pasang calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta dan bukan hanya cawagub saja.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Dewan Pakar Tim Pemenangan Agus-Sylvi, Eddy Sadeli, mendeklarasikan dukunganny untuk pasangan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok-Djarot Saiful Hidayat.
Eddy berjanji akan membantu memenangkan Ahok-Djarot dengan mengkampanyekan program-program mereka. Dalam deklarasi dukungannya di Rumah Lembang, Menteng, Jakarta Pusat, Eddy Sadeli menyatakan ada kesamaan visi antara Ahok-Djarot dan Partai Demokrat, tempatnya bernaung.
Selain itu, ia menilai Ahok-Djarot sudah membuktikan pekerjaannya sebagai pemimpin pemerintahan di Jakarta. Eddy mengaku sudah meminta izin partainya untuk mendukung Ahok-Djarot.(*)
Saat aksi demo tiga angka sebelum aksi 313, terjadi juga aksi penangkapan pelaku makar. Tapi saat itu tidak jelas siapa donatur demo tersebut, mengingat demo yang besar pasti memerlukan dana yang besar pula. Sang donatur lolos dari incaran polisi.
Nah, pada aksi 313 kali ini, polisi sudah menyita uang sebesar 18,8 juta dari tangan Sekretaris Jenderal Forum Umat Islam (FUI) Muhammad Al-Khaththath, koordinator aksi 313.
“Dari tangan yang bersangkutan kami sita uang dengan total Rp 18.870.000,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono
Uang ini nilainya kecil bila dibandingkan dengan dana total yang diperlukan untuk mengadakan demo 313. Tapi, kalau untuk seorang diri, uang ini nilainya besar. Bayangkan, pekerjaan apa yang bisa menghasilkan 18 juta dalam sehari? Peserta demo dapat nasi bungkus, eh koordinatornya dapat 18 juta.
Uang ini memang belum jelas untuk siapa dan dari siapa. Masih ada kemungkinan bahwa uang ini akan dibagi-bagi kepada orang lain. Pertanyaan yang terpenting adalah uang ini dari siapa. Ingat, Al-Khaththath ditangkap dengan kasus dugaan pemufakatan makar.
Donatur demo mungkin terlibat ataupun tidak terlibat. Yang penting adalah identitas donaturnya diketahui, lalu diperiksa polisi untuk memberikan keterangan. Identitas donatur juga perlu diketahui publik, mengingat demo 313 ini juga menyusahkan publik Jakarta. Siapa yang mau macet demi demo?
Demo 313 ini agendanya tetap sama, ingin Ahok diturunkan karena sudah menjadi tersangka. Semuanya dibalut dengan kemasan agama supaya terkesan religi. Banyak orang memakai peci putih, padahal penampilan tidak berbanding lurus dengan moral. Lihat saja koruptor, mana ada kelihatan jahat, semuanya senyam senyum didepan kamera.
Mungkin disini pertama kalinya tindakan SARA dilakukan didepan publik secara terbuka. Mengajak warga untuk tidak memilih pemimpin non-muslim adalah SARA apapun alasannya. Menjegal Ahok dengan alasan agama sungguh tidak masuk akal. Ahok bukan ingin menjadi imam masjid, tapi menjadi Gubernur. Gubernur tidak dipermasalahkan agamanya.
Kaum bumi datar dengan entengnya mengatakan bila yang muslim bisa saja korup apalagi yang non-muslim. Ini logika yang tidak ada dasarnya, bagaimana jika ada orang yang mengatakan sebaliknya? Bukankah jadi berantem? Tidak ada dasar moral orang beragama X lebih baik dari agama Y. Orang beragama X pasti merasa agamanya lebih baik, begitu juga sebaliknya. Tapi jangan sampai digunakan untuk merendahkan yang bukan agamanya.
Kembali ke donatur demo, sekarang pasti mereka sedang deg-degan. Mereka berharap agar Al-Khaththath tidak akan memberitahu nama mereka kepada polisi. Kalau mereka dipanggil pasti jadi perkara. Mereka sudah membantu demo dimana koordinatornya menjadi pelaku dugaan makar. Bersalah ataupun tidak bersalah pasti reputasinya kena.
Polisi juga pasti bisa mengusut tuntas kasus makar ini. Mereka saja bisa tahu kalau orang-orang ini mau menduduki DPR/MPR. Bisa tahunya darimana? Apa polisi memiliki jaringan hacker canggih yang bisa tahu chat mereka? Atau polisi punya orang dalam yang membocorkan informasi? Bagaimanapun caranya salut kepada polisi yang bisa tahu
Polisi perlu memberikan informasi tentang donatur demo juga bila diketahui. Karena sanksi moral biasanya lebih sadis dibanding sanksi hukum. Supaya ada efek jera bagi donatur untuk tidak lagi mengeluarkan dana untuk demo-demo seperti ini. Demo 313 ini sungguh tidak masuk akal, ingin Ahok diturunkan dari posisi Gubernur tanpa alasan hukum yang kuat.
Yang kita harapkan tentu saja tidak ada lagi aksi-aksi seperti ini. Aksi 313 gunanya untuk apa? Selain asal bukan Ahok, tidak ada lagi tujuan yang lain. Malahan pesertanya ada dari luar Jakarta, padahal ini merupakan masalah Jakarta. Sepertinya mereka masih terlalu percaya bisa menang, toh hasil demo kemarin Ahok bisa menjadi tersangka.
Tentu saja kita sangat berharap kepada kepolisian, kita ingin tahu siapakah donatur aksi demo ini. Sudah berkali-kali aksi tiga angka tapi donaturnya belum jelas. Bahkan ini sudah ada tindakan makarnya. Semoga saja identitas donatur bisa terungkap, minimal agar publik tahu siapa yang selama ini mendalangi demo.