Rabu, 01 Maret 2017

Rizieq Tidak Sudi Salam Ahok, Raja Salman Salam Ahok, Siapa Panutan Anda??







https://www.facebook.com/AhokBTP/

Foto salaman Raja Salman dan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menjadi viral di media sosial. Foto salaman ini tentu saja seperti menjadi sebuah pukulan telak bagi mereka yang menganggap bahwa Ahok adalah penoda agama Islam. Bagi mereka, Ahok seharusnya ditahan dan tidak pantas menyalaman Raja Salman.

Parahnya, karena begitu yakin bahwa Ahok tidak pantas dan tidak layak menyalami raja Salman, pembelaan muncul di media sosial yang menyatakan bahwa foto tersebut hoax. Menurut foto tersebut, Foto Ahok bersalaman adalah hoax dan tidak benar.



Memang kubu FPIers dan penganut ideologi tertutup bak cacing kepanasan melihat foto salaman Raja Salman dan Ahok. Bagi mereka salaman itu seperti sebuah penghinaan karena Raja Salman bersalaman dengan penista agama. Mereka sangat tidak sudi kalau peristiwa salaman tersebut nyata.

Penolakan mereka atas kejadian itu pada akhirnya membuat mereka dengan sangat baik membuat foto yang sebenarnya dan menyatakan foto Ahok adalah hoax. Kelakuan mereka ini tentu saja sejalan dengan ulama besar mereka Rizieq Shihab yang sangat membenci Ahok. Kebencian Rizieq bahkan membuat dia tidak sudi menyalam Ahok.

Rizieq memang menunjukkan sikap yang tidak bersahabat dengan Ahok ketika dia menjadi saksi ahli dalam sidang keduabelas Ahok. Selama memberikan kesaksian, Rizieq tak pernah mengarahkan pandangan ke Ahok. Rizieq hanya fokus menjawab pertanyaan yang dilontarkan majelis hakim dan jaksa penuntut umum.

Di ujung sidang, Rizieq bergegas menyalami majelis hakim maupun jaksa penuntut umum. Namun tidak dengan Ahok. Tak ada tatap muka apalagi salam tangan pada Ahok. Rizieq bergegas keluar dari ruang sidang didampingi sejumlah massa FPI yang mengawalnya.


Sikap permusuhan Rizieq bukanlah hal yang mengejutkan. Rizieq memang sudah lama tidak senang dengan Ahok. Apalagi alasannya kalau kehadiran Ahok telah mengebiri uang masuk mereka. Jika sebelumnya mudah mendapatkan uang masuk, kini FPI kesulitan dana. Hal ini bisa kita saksikan ketika Rizieq kembali tampil dengan mobil barunya. Menggambarkan dirinya baru saja dapat proyek demo besar-besaran.

Meski memiliki sikap permusuhan yang sangat besar, kehadiran Rizieq dipersidangan sebagai saksi ahli seharusnya bisa ditampilkannya dengan netral dan tidak perlu menampakan kebencian. Rizieq yang tampil bukan sebagai saksi pelapor, malah menunjukkan sikap permusuhan dengan tidak menyalam Ahok. Padahal sebagai saksi ahli sikap Rizieq tidak menyalam Ahok menjadi sebuah kejanggalan.

Tidak disalamnya Ahok ini memperkuat dugaan bahwa Rizieq sebagai saksi ahli tidak netral. Jika dibandingkan dengan para saksi pelapor yang masih mau bersalaman, maka Rizieq statusnya sudah melebihi para saksi pelapor. Terang saja kalau dalam persidangan dia memberikan bukti tambahan dan minta Ahok ditahan.

Berbeda dengan Rizieq, Raja Salman tidak memperlakukan Ahok dengan tidak adil. Raja Salman menyalami Ahok. Pertanyaannya, apakah Raja Salman atau pihak Arab Saudi tidak tahu Ahok sedang didakwa tuduhan penistaan agama Islam?? Pihak arab saudi tahu hal itu, tetapi menghormati hukum di Indonesia.

”Saudi adalah pemimpin negara Islam, karena memang dua kota suci ada di Saudi. Tapi, berkaitan dengan (kasus dugaan penistaan agama) itu, tentunya jadi urusan dalam negeri Indonesia dan kita tentu tidak akan menyinggung masalah itu,” kata Dubes Osama.

”Tapi, harapan kita adalah masalah ini dapat diselesaikan antara umat Muslim dan pemerintah Indonesia demi menjaga stabilitas dan keamanan yang telah dinikmati selama ini,” ujarnya.

Sikap Arab Saudi yang tidak mau masuk dalam urusan dalam negeri Indonesia patut menajadi contoh dan panutan. Arab Saudi yang seharusnya merasa terhina dan tersinggung dengan status Ahok tidak mau mendahului hukum dan menunggu proses hukum yang menentukan. Sangat berbeda dengan Rizieq yang tampil sebagai pihak netral, yaitu saksi ahli yang mendahului proses hukum dan sudah menyimpulkan kejahatan Ahok.

Perbedaan sikap Rizieq dan Raja Salman inilah yang membedakan kualitas emosional dan kebijaksanaan mereka. Rizieq yang membenci Ahok dan memakai isu agama untuk menjatuhkan Ahok, sedangkan Raja Salman dengan elegan menghormati hukum Indonesia dan tidak menolak bersalaman dengan Ahok. Sebuah teladan yang jauh berbeda.

Itulah mengapa kita juga melihat perbedaan mencolok bagaimana bawahan dua orang ini menanggapi permasalahan Ahok. Dubes Arab Saudi dengan bijak tetap tidak mencampuri urusan hukum Indonesia, dibandingkan para elit FPI dan laskar yang begitu sangat membenci Ahok.

Semoga gambaran dua orang ini menjadi sebuah pembelajaran bagi kita bagaiman bersikap terhadap seseorang yang dituduh melakukan kejahatan dan masih dalam proses hukum. Saya berharap semua kita mengikuti teladan Raja salman, bukan Rizieq Shihab.


Salam Salaman.




Tak Ada Gunanya Berebut Partai Pengusung Agus-Sylvi






jpnn.com - Dukungan empat partai politik pengusung pasangan Agus Yudhoyono-Sylviana Murni jadi rebutan jelang putaran dua Pilkada DKI 2017.

Baik pasangan Ahok-Djarot maupun Anies-Sandi berharap, tambahan dukungan dari partai-partai itu dapat memperbesar peluang mereka memenangkan babak final pilkada.

Namun, menurut pengamat politik Gun Gun Heryanto, dukungan PAN, PKB, PPP ataupun Partai Demokrat sebenarnya tak akan berpengaruh banyak bagi kedua pasangan calon itu.

"Kalau sebatas dukungan elit, tapi tidak menyentuh sampai tataran bawah, ya percuma," kata Gun Gun.

Gun Gun mengatakan, hasil putaran pertama sudah memperlihatkan betapa keroposnya dukungan keempat partai yang kerap dijuluki Poros Cikeas itu.

Dari keempatnya, hanya Demokrat yang punya mesin partai cukup kuat untuk membuat perbedaan yang berarti.

Demokrat juga dinilai sebagai satu-satunya partai yang benar-benar bergerak menjaring suara untuk Agus-Sylvi.

Sementara tiga partai lainnya bisa dibilang hanya penggembira. "Loyalitas partai-partai pendukung Agus-Sylvi rendah. Terbukti hanya mendapatkan 17 persen suara," ujar Gun Gun. (ipk/rmol)



Inilah Bukti Majalah Playboy Di Rumah Petinggi FPI




Gua cuma mau berbagi aja nih. Hasil dari browsing di internet, tanpa beropini secara pribadi. Silahkan disimak dan beropini yang mau beropini!

Penyidik Polda menggeledah rumah Habib Rizieq di Petamburan, terkait insiden Monas 1 Juni 2008. Saat itu, penyidik Polda menemukan 1 VCD menggambarkan kerusuhan dan ceramah Rizieq, dokumen berupa buku kecil FPI, dan majalah Playboy.

Hal ini terungkap dalam persidangan yang mendudukkan Rizieq sebagai terdakwa di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (8/9). Penyidik Polda Metro Sumarjono yang membeberkan temuan tersebut ketika ditanyai JPU Purnama Wahyudi.

"Tahu dari mana ada kerusuhan Monas?" Tanya Purnama.

"Pertama dari laporan masyarakat, berita dari TV, ketiga ada salah satu anggota tim penyidik kami yang menangani kasus ini telah melakukan penggeledahan di markas FPI di Petamburan yang kediaman Ketua FPi Rizieq telah ditemukan 1 VCD yang menggambarkan satu kerusuhan dan ceramah Habib Rizieq kepada umat Islam," jawab Sumarjono.

"Selain VCD apa lagi?" Tanya Purnama lagi.

"Majalah Playboy dan dokumen berupa majalah kecil FPI," jawab Sumarjono.

Kemudian kuasa hukum Habib Rizieq, Ari Yusuf Amir dan JPU maju ke meja Majelis Hakim yang diketuai Pamusunan Harahap.

Habib Rizieq yang diberi kesempatan untuk menanggapi pengakuan Sumarjono langsung protes. "Barang yang disita oleh penyidik tidak disertai surat penyitaan dari Pengadilan Negeri Jakpus. Padahal rumah saya ada di Jakarta Pusat," protes Rizieq.

Rizieq kemudian juga memprotes tentang majalah Playboy yang dijadikan barang bukti di pengadilan. "Ini menyangkut nama baik saya, saya protes dengan JPU. Padahal majalah Playboy tidak ada kaitan dengan insiden Monas," kata Rizieq yang bersuara keras.

Kemudian Rizieq membeberkan tentang FPI yang selama 10 tahun terakhir ini perang terhadap pornografi dan pornoaksi. Dia juga menceritakan telah menyeret pihak majalah penerbit Playboy ke PN Jaksel yang saat ini masih di tingkat kasasi.

"Di antara barang-barang yang disita, baik foto maupun majalah, terdapat foto bugil Putri Indonesia yang ikut pada Miss Universe. Dan itu yang kita kirim ke Presiden sebagai bentuk protes FPI terhadap pornografi," papar Rizieq.

FPI menjadi sangat terkenal karena aksi-aksinya yang kontroversial sejak tahun 1998, terutama yang dilakukan oleh laskar paramiliternya yakni Laskar Pembela Islam. Rangkaian aksi penutupan klab malam, tempat pelacuran dan tempat-tempat yang diklaim sebagai tempat maksiat, ancaman terhadap warga negara tertentu, penangkapan (sweeping) terhadap warga negara tertentu, konflik dengan organisasi berbasis agama lain adalah wajah FPI yang paling sering diperlihatkan dalam media massa.

Anggota FPI mengangkat mayat pada bencana tsunami di Aceh
Walaupun disamping aksi-aksi kontroversial tersebut FPI juga melibatkan diri dalam aksi-aksi kemanusiaan antara lain pengiriman relawan ke daerah bencana tsunami di Aceh.

Tindakan FPI sering dikritik berbagai pihak karena tindakan main hakim sendiri yang berujung pada perusakan hak milik orang lain. Pernyataan bahwa seharusnya Polri adalah satu-satunya intitusi yang berhak melakukan hal tersebut dijawab dengan pernyataan bahwa Polri tidak memiliki insiatif untuk melakukannya.

Rizieq, sebagai ketua FPI, menyatakan bahwa FPI merupakan gerakan lugas dan tanpa kompromi sebagai cermin dari ketegaran prinsip dan sikap. Menurut Rizieq kekerasan yang dilakukan FPI dikarenakan kemandulan dalam sistem penegakan hukum dan berkata bahwa FPI akan mundur bila hukum sudah ditegakkan. Ia menolak anggapan bahwa beberapa pihak menyatakan FPI anarkis dan kekerasan yang dilakukannya merupakan cermin kebengisan hati dan kekasaran sikap.

Karena aksi-aksi kekerasan itu meresahkan masyarakat, termasuk dari golongan Islam sendiri, beberapa ormas menuntut agar FPI dibubarkan. Melalui kelompok surat elektronik yang tergabung dalam forum wanita-muslimah mereka mengirimkan petisi pembubaran FPI dan ajakan bergabung.[9]

Menurut mereka walaupun FPI membawa nama agama Islam, pada kenyataannya tindakan mereka bertentangan dengan prinsip dan ajaran Islami, bahkan tidak jarang menjurus ke vandalisme.

Sedangkan menurut Pengurus FPI, tindakah itu dilakukan oleh oknum-oknum yang kurang / tidak memahami Prosedur Standar FPI.[10]

Pada bulan Mei 2006, FPI berseteru dengan Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Pertikaian ini berawal dari acara diskusi lintas agama di Purwakarta, Jawa Barat. Gus Dur, yang hadir di sana sebagai pembicara, sempat menuding organisasi-organisasi Islam yang mendukung Rancangan Undang-Undang Anti-Pornografi dan Pornoaksi disokong oleh sejumlah jenderal. Perdebatan antara Gus Dur dan kalangan FPI pun memanas sampai akhirnya mantan presiden ini turun dari forum diskusi.

Pada bulan Juni 2006 Ketua Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Tjahjo Kumolo dan Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Kapolri Jenderal Pol Sutanto untuk menindak ormas-ormas anarkis secepatnya. Pemerintah, melalui Menko Polhukam Widodo AS sempat mewacanakan pembubaran ormas berdasarkan peraturan yaitu Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1985, namun hal ini hanya berupa wacana, dan belum dipastikan. Kabarnya pendiria ormas di Indonesia harus berdasarkan Pancasila sedangkan FPI berdasarkan syariat Islam dan tidak mau mengakui dasar lainnya.

Kalangan DPR juga meminta pemerintah bertindak tegas terhadap ormas-ormas yang bertindak anarkis dan meresahkan ini. Tindakan tegas aparat keamanan dinilai penting agar konflik horizontal tidak meluas.

Pada 20 Juni 2006 Dalam acara diskusi "FPI, FBR, versus LSM Komprador" Rizieq menyatakan bahwa rencana pemerintah untuk membubarkan ormas Islam adalah pesanan dari Amerika merujuk kedatangan Rumsfeld ke Jakarta. FPI sendiri menyatakan bahwa bila mereka dibubarkan karena tidak berdasarkan Pancasila maka organisasi lainnya seperti Muhammadiyah dan ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) juga harus dibubarkan.
Insiden Monas

Insiden Monas adalah sebutan media untuk peristiwa penyerangan yang dilakukan FPI terhadap Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKBB) di silang Monas pada tanggal 1 Juni 2008. Satu hari setelah peristiwa tersebut, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengadakan Rapat Koordinasi Polkam yang membahas aksi kekerasan tersebut. Presiden dalam jumpa persnya mengatakan negara tidak boleh kalah dengan perilaku kekerasan .

Menambahkan bahwa aksi-aksi kekerasan telah mencoreng nama baik di dalam dan di luar negeri.

Ketua Komando Laskar Islam, Munarman, mengoreksi pemberitaan media dan menyatakan bahwa penyerangan terhadap AKBB dilakukan oleh Komando Laskar Islam dan bukan FPI. Sehari sebelumnya Polisi menemui Rizieq di markas FPI, Petamburan Jakarta, namun tidak melakukan penangkapan, karena ketua FPI berjanji akan menyerahkan anggotanya yang bertanggung jawab pada insiden Monas, polisi sendiri sudah mengidentifikasi lima anggota FPI yang diduga terlibat dalam peny Kecaman Nasional

Insiden Monas dalam rangka memperingati Hari Lahirnya Pancasila terus menuai protes. Din Syamsuddin Ketua PP Muhammadiyah menyatakan bahwa aksi tersebut merupakan kriminalitas nyata, Ketua DPR Agung Laksono menilai kekerasan tersebut tidak bermoral . Sementara aksi menentang FPI terjadi di Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, Mojokerto, Malang, Jember dan Surabaya, Jawa Timur oleh ratusan ormas seperti PMII, Banser, Satgas, Garda Bangsa and GP Anshor yang umumnya merupakan partisan PKB Gus Dur, masa mulai mengancam apabila pemerintah tidak mengambil tindakan, mereka akan mengambil tindakan sendiri.

Di Yogya, sekelompok orang tidak bersenjata berjumlah sekitar 100 orang dengan menggunakan sepeda motor menyerbu kantor FPI di Sleman pada 2 Juni 2008 dan merusak papan nama FPI, mereka langsung melarikan diri untuk menghindari konflik saat anggota-anggota FPI keluar dengan membawa senjata tajam.

Ikut Menyambut Raja Salman, Ahok “Tampar” Rizieq dengan Elegan






Sesuai dengan jadwal, hari ini Raja Arab Saudi, Raja Salman Bin Abdul Aziz Al-Saud akan mengunjungi Indonesia. Kunjungan kenegaraan yang berlangsung dari tanggal 1 sampai tanggal 9 Maret 2017 ini bertujuan untuk memperkuat kerja sama bilateral antara Indonesia dan Kerajaan Arab Saudi. Pemerintah Kerajaan Arab Saudi menilai dalam dua tahun terakhir hubungan kedua negara semakin dekat dan isu yang dibahas pemerintah kedua negara tidak hanya soal haji dan tenaga kerja.

Menariknya, dari beberapa tokoh yang ikut menyambut kedatangan Raja Salman di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, terlihat sosok Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau yang lebih dikenal dengan nama panggilan Ahok.

Ahok diminta mendampingi Jokowi untuk menyambut kedatangan Raja Salman dan rombongan mungkin dengan dua pertimbangan. Pertama, Ahok adalah pimpinan di Jakarta. Sebagaimana kita ketahui bersama, Raja Salman pertama kali menginjak kan kaki ke Indonesia itu melalui Jakarta. Jadi wajar kalau Ahok yang merupakan gubernur Jakarta ikut menyambut kedatangannya. Kedua, Jokowi tidak mungkin membawa Ibu Negara, Ibu Iriana Widodo, mengingat Raja Salman yang berasal dari Arab tidak mungkin bersalaman dengan wanita yang bukan muhrimnya.

Saat ditanya apa yang bakal dilakukannya saat bertemu dengan Raja Salman, Ahok hanya menjawab :

“Kalau menerima orang ya salaman dong,” kata Ahok di Balaikota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (1/3/2017).
Saat bersalaman dengan Raja Salman, secara tidak langsung Ahok telah “menampar” pimpinan FPI, Rizieq Shihab. Bagaimana mungkin, Ahok yang selama ini selalu diteriaki “kafir” dan sedang terjerat kasus dugaan penistaan agama, malah mendapat kesempatan dan kehormatan untuk bersalaman dengan Raja Salman?

Para penghuni bumi datar dan yang secingkrangan dengannya pasti beranggapan bahwa orang yang paling tepat menyambut dan bersalaman dengan Raja Salman adalah Rizieq Shihab. Siapa yang tidak kenal Rizieq? Pimpinan FPI, Imam Besar dan hanya Rizieq yang bisa mengumpulkan 7 juta manusia dalam satu tempat yang sama. Kurang hebat apa coba?

Tapi kenyataan berkata lain, malah Ahok yang mendapat kesempatan dan kehormatan tersebut. Kalau sudah begini, mau tidak mau orang akan mengatakan bahwa tudingan “kafir” kepada Ahok yang dilakukan FPI dan para pendukungnya adalah tuduhan sesat. Jika Ahok kafir, bagaimana mungkin dia bisa menyambut raja penjaga dua kota suci umat Islam?

Dan secara tidak langsung juga, orang-orang akan menilai bahwa FPI tidak lebih dari sebuah ormas biasa.

***

Ada satu pernyataan Ahok yang membuat saya benar-benar terharu. Yakni harapan Ahok kepada Raja Salman “Harapannya minimal kuota naik haji ditambah dong,” ujar Ahok di Balai Kota Jakarta, Senin (27/2/2017).

Bagaimana mungkin, orang yang telah dianggap menistakan agama masih sempat-sempatnya memiliki harapan seperti itu? Padahal itu bukan untuk agama yang diyakini nya, lho. Itu untuk umat Islam. Umat dari agama yang dikatakan telah dinistakan oleh nya.


Semoga pertemuan Raja Salman dan Ahok ini membuat FPI sadar bahwa antara politik dan agama itu adalah dua hal yang tidak bisa di campur adukkan.




Ini yang akan dilakukan Ahok saat bertemu Raja Salman




Merdeka.com - Presiden Joko Widodo akan langsung menjemput Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz Al-Saud di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur pada siang hari ini. Pada kesempatan itu pula, rencananya Gubernur DKI JakartaBasuki Tjahaja Purnama akan turut mendampingi.

Basuki atau akrab disapa Ahok ini mengaku tidak memiliki agenda khusus dengan kedatangan Raja Salman. Dia hanya datang untuk mendampingi Presiden Jokowi dalam rangka menyambut tamu negara.

"Kalau nerima orang ya salaman dong. Saya enggak tahu (mau ngapain)," katanya di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (1/3).

Bahkan, mantan Bupati Belitung Timur ini tidak mengetahui apakah akan turut mendampingi hingga ke Istana Bogor. Karena sebenarnya, dia mengaku, telah memiliki agenda lain malam hari ini. "Enggak tahu (ke Bogor atau tidak), saya mau nonton BCL (Bunga Citra Lestari) kayanya," tutupnya.


Sebelumnya, Jokowi menjemput langsung tamu negara adalah yang pertama. Biasanya kepala negara cukup menunggu di Istana Kepresidenan, baik itu di Jakarta maupun di Bogor. Seperti diketahui kedatangan Raja Arab Saudi terakhir ke Indonesia adalah pada 1970.

"Kenapa ini dilakukan, karena ketika berkunjung ke Arab Saudi, Presiden Jokowi dijemput di pintu pesawat oleh Raja Salman," kata Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung ketika jumpa pers pada Selasa (21/2).

Menurut Pramono, Presiden Jokowi langsung menjemput ke bandara ini untuk menunjukkan hubungan Indonesia dan Arab Saudi yang sangat dekat, sangat erat dan sangat akrab.

"Kunjungan Raja Salman ke Indonesia ini sungguh akan merupakan kunjungan kehormatan bagi bangsa Indonesia dan juga sekaligus menunjukkan keakraban, keeratan antara pemerintah Indonesia dengan Kerajaan Arab Saudi," kata Pramono.

Sesuai rencana Raja Salman dari Halim akan langsung menuju Istana Bogor. Kepala Sekretariat Presiden Darmansjah Djumala mengatakan akan diadakan jamuan makan siang dengan memadukan menu Indonesia dan menu Timur Tengah.

"Dari masakan Indonesia kemungkinan kita sajikan ikan, sea food yang dibakar, kemudian ada panganan-panganan ringan Indonesia. Ada juga masakan nasi kebuli," ungkapnya.

Arab Saudi, menurut Darmansjah, juga mengaku meminta khusus disediakan makanan sehat seperti sayur dan buah-buahan.

"Yang khusus itu buah-buahan. Buah-buahan akan kita pamerkan di meja itu, jadi termasuk dekorasi buah-buahan untuk dinikmati oleh raja juga. Itu harus buah lokal dari semua nama buah ada. Semua jenis buah kita perkenalkan juga, buah kita kan banyak sekali," tutur Darmansjah.

Delegasi Arab Saudi juga akan mendapat pertunjukkan tari-tarian yang dipersiapkan oleh seniman Denny Malik. "Ada tarian dari Aceh dan Melayu seperti tari japin lalu medley, tari saman dan tari Darussalam namanya," ungkapnya.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan peningkatan kerja sama ekonomi menjadi agenda utama kunjungan Raja Salman beserta delegasinya ke Indonesia.

"Kerja sama ekonomi menjadi agenda utama Raja Salman beserta delegasi ke Indonesia. Akan banyak, tapi akan saya simpan dulu sampai Raja hadir," kata Menteri Retno usai menghadiri Raker Kementerian Perdagangan di Hotel Borobudur Jakarta, Rabu (22/2).



HEBOH!!! 2 Maret 2017 Akhirnya Dijadwalkan Bertemu King Salman



Gak salah nih? Salah sepertinya. Saat Penista Agama jadi diundang untuk berjumpa dengan Raja Salman? Apa Sang Raja tak takut didemo? Atau tak dimandikan jenazahnya bila meninggal dunia kelak lantaran telah mengundang Ahok? Itu loh hukuman sosial yang didapatkan beberapa Pendukung Islam Radikal di Jakarta. Ah itu cuma gurauan atas semuanya sebagian desakan yang tengah ramai dilakukan pada Ahok.

Seperti terserang halilitar disiang bolong saat saya memperoleh berita dari seseorang rekan kalau Protokoler Pemprov DKI terima surat dari Sesneg tentang undangan resmi dari Raja Salman pada Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta untuk berjumpa pada tanggal 2 Maret 2017 kelak. Dalam hati saya berkata, bila berita ini benar, bermakna ada keberpihakan saat pada Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Semua berlangsung sesudah Ahok resmi terima kembali jabatan Gubernur yang sepanjang 4 bln. dipegang oleh seseorang Plt Gubernur pada tanggal 11 Februari 2017 lantas. Sepanjang Plt Gubernur memegang tampuk Pemprov DKI, tak ada satu juga peristiwa utama yang berlangsung terkecuali pengaturan APBD yang memanglah telah dijadwalkan.

Kehadiran Raja Salman ditengah goncang gancing gosip penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta yaitu satu dari gagasan Tuhan Yang Maha Kuasa. Duta Besar RI untuk Saudi Arab serta Organisasi Hubungan kerja Islam atau OKI, Agus Mahfud Abegebriel, pada wawancaranya di TV ONE menyampaikan kalau pihak Kerajaan mengusulkan 3 tanggal untuk kunjungannya ke Indonesia serta mereka pilih untuk datang pada tanggal 1 Maret 2017 sesudah kunjungannya ke Malaysia usai serta bakal dilanjutkan ke Jepang.

Ayah Agus Mahfud Abegebriel terima dengan cara segera konfirmasi serta kepastian kunjungan Raja Salman ke Indonesia pada awal Maret 2017 komplit dengan susunan agendanya. Rancangan gagasan kunjungan Raja Arab Saudi ini dikerjakan mulai sejak bln. Mei 2016. Hati Duta Besar kita begitu berbunga-bunga saat terima surat jawaban berkop warna hijau dari Raja Salman pada Presiden Jokowi. Surat itu dimulai tulisan “ila fakhamatil akh al-aziz Joko Widodo”, yang artinya “kepada yang mulia teman dekat yang agung Joko Widodo”.

Dalam rombongannya, Raja Salman didampingi oleh 2 orang Menteri yakni Menteri Masalah Layanan Sipil serta Menteri Masalah Perkotaan. Beberapa hal yang bakal dibicarakan pada pertemuan yang direncanakan bakal berlangsung pada tanggal 2 Maret 2017 yaitu sekitar materi efektivitas birokrasi dan service umum.

Seperti kita kenali kalau Ahok sukses mengubah muka birokrasi Pemprov DKI Jakarta jadi begitu efektif. Raja Salman sendiri sebelumnya dinobatkan jadi Raja, beliau jadi Gubernur untuk periode waktu yang begitu lama. Prestasi-prestasi Ahok banyak dibicarakan dikalangan Warga Negara Indonesia yang bermukim di Arab Saudi, terlebih dimedia sosial serta hal semacam ini terpantau oleh pihak Kerajaan.

Kelihatannya status Gubernur DKI Jakarta sebagai terdakwa pada masalah Penistaan Agama tak memengaruhi pandangan Kerajaan Arab Saudi bakal prestasi-prestasi yang sudah Ahok capai sepanjang menjabat jadi Gubernur DKI Jakarta.

Sebagai Pintu Gerbang Negara, sangat utama bangun serta membenahi Jakarta dengan cara cepat, modern, serta profesial supaya kesetaraan dengan kota-kota besar lain didunia selekasnya terwujud riil lantaran semuanya Tamu Negara bakal senantiasa transit di Jakarta.

Hhmm, ini membingungkan saya. Disatu segi, orang yang menyuarakan penolakan atas diri Ahok dengan basic Penistaan Agama serta bahkan juga meneror kalau mesjid-mesjid mereka akan tidak terima untuk memandikan Jenazah untuk Muslim yang mensupport Ahok, disisi lain peristiwa untuk peristiwa seakan memerlihatkan pada kita pihak mana yang sesungguhnya tengah lakukan kekeliruan.

Sampai kini kita senantiasa disajikan berita-berita yang menyangkut Ahok, senantiasa Jokowi yang dikambing hitamkan. Hingga saat Ahok semobil dengan Jokowi memakai mobil RI 1 untuk mengecek proyek MRT juga nyinyiran dari gedung hijau segera kita dengar. Namun kesempatan ini yaitu Raja Salman! Seseorang yang mustahil dapat dibisiki atau di pengaruhi!

Atau mungkinkah ini semuanya akibatnya karena penolakan atas satu keinginan maaf yang telah Ahok berikan?

Saya tidak paham, yang tentu pihak Protokoler Pemprov DKI telah terima surat dari Sesneg mengundang Ahok dengan cara resmi sebagai Gubernur DKI Jakarta untuk berjumpa dengan Raja Salman dalam satu session acara resmi kenegaraan pada tanggal 2 Maret 2017.



Sumber

HEBOH!!! 2 MARET 2017 Raja Salman Dijadwalkan Bertemu Ahok, Rizieq: Indonesia Hancur...



Sukabacadahulu.blogspot.com  Gak salah nih? Salah sepertinya. Saat Penista Agama jadi diundang untuk berjumpa dengan Raja Salman? Apa Sang Raja tak takut didemo? Atau tak dimandikan jenazahnya bila meninggal dunia kelak lantaran telah mengundang Ahok? Itu loh hukuman sosial yang didapatkan beberapa Pendukung Islam Radikal di Jakarta. Ah itu cuma gurauan atas semuanya sebagian desakan yang tengah ramai dilakukan pada Ahok.

Seperti terserang halilitar disiang bolong saat saya memperoleh berita dari seseorang rekan kalau Protokoler Pemprov DKI terima surat dari Sesneg tentang undangan resmi dari Raja Salman pada Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta untuk berjumpa pada tanggal 2 Maret 2017 kelak. Dalam hati saya berkata, bila berita ini benar, bermakna ada keberpihakan saat pada Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Semua berlangsung sesudah Ahok resmi terima kembali jabatan Gubernur yang sepanjang 4 bln. dipegang oleh seseorang Plt Gubernur pada tanggal 11 Februari 2017 lantas. Sepanjang Plt Gubernur memegang tampuk Pemprov DKI, tak ada satu juga peristiwa utama yang berlangsung terkecuali pengaturan APBD yang memanglah telah dijadwalkan.

Kehadiran Raja Salman ditengah goncang gancing gosip penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta yaitu satu dari gagasan Tuhan Yang Maha Kuasa. Duta Besar RI untuk Saudi Arab serta Organisasi Hubungan kerja Islam atau OKI, Agus Mahfud Abegebriel, pada wawancaranya di TV ONE menyampaikan kalau pihak Kerajaan mengusulkan 3 tanggal untuk kunjungannya ke Indonesia serta mereka pilih untuk datang pada tanggal 1 Maret 2017 sesudah kunjungannya ke Malaysia usai serta bakal dilanjutkan ke Jepang.

Ayah Agus Mahfud Abegebriel terima dengan cara segera konfirmasi serta kepastian kunjungan Raja Salman ke Indonesia pada awal Maret 2017 komplit dengan susunan agendanya. Rancangan gagasan kunjungan Raja Arab Saudi ini dikerjakan mulai sejak bln. Mei 2016. Hati Duta Besar kita begitu berbunga-bunga saat terima surat jawaban berkop warna hijau dari Raja Salman pada Presiden Jokowi. Surat itu dimulai tulisan “ila fakhamatil akh al-aziz Joko Widodo”, yang artinya “kepada yang mulia teman dekat yang agung Joko Widodo”.

Dalam rombongannya, Raja Salman didampingi oleh 2 orang Menteri yakni Menteri Masalah Layanan Sipil serta Menteri Masalah Perkotaan. Beberapa hal yang bakal dibicarakan pada pertemuan yang direncanakan bakal berlangsung pada tanggal 2 Maret 2017 yaitu sekitar materi efektivitas birokrasi dan service umum.

Seperti kita kenali kalau Ahok sukses mengubah muka birokrasi Pemprov DKI Jakarta jadi begitu efektif. Raja Salman sendiri sebelumnya dinobatkan jadi Raja, beliau jadi Gubernur untuk periode waktu yang begitu lama. Prestasi-prestasi Ahok banyak dibicarakan dikalangan Warga Negara Indonesia yang bermukim di Arab Saudi, terlebih dimedia sosial serta hal semacam ini terpantau oleh pihak Kerajaan.

Kelihatannya status Gubernur DKI Jakarta sebagai terdakwa pada masalah Penistaan Agama tak memengaruhi pandangan Kerajaan Arab Saudi bakal prestasi-prestasi yang sudah Ahok capai sepanjang menjabat jadi Gubernur DKI Jakarta.

Sebagai Pintu Gerbang Negara, sangat utama bangun serta membenahi Jakarta dengan cara cepat, modern, serta profesial supaya kesetaraan dengan kota-kota besar lain didunia selekasnya terwujud riil lantaran semuanya Tamu Negara bakal senantiasa transit di Jakarta.

Hhmm, ini membingungkan saya. Disatu segi, orang yang menyuarakan penolakan atas diri Ahok dengan basic Penistaan Agama serta bahkan juga meneror kalau mesjid-mesjid mereka akan tidak terima untuk memandikan Jenazah untuk Muslim yang mensupport Ahok, disisi lain peristiwa untuk peristiwa seakan memerlihatkan pada kita pihak mana yang sesungguhnya tengah lakukan kekeliruan.

Sampai kini kita senantiasa disajikan berita-berita yang menyangkut Ahok, senantiasa Jokowi yang dikambing hitamkan. Hingga saat Ahok semobil dengan Jokowi memakai mobil RI 1 untuk mengecek proyek MRT juga nyinyiran dari gedung hijau segera kita dengar. Namun kesempatan ini yaitu Raja Salman! Seseorang yang mustahil dapat dibisiki atau di pengaruhi!

Atau mungkinkah ini semuanya akibatnya karena penolakan atas satu keinginan maaf yang telah Ahok berikan?

Saya tidak paham, yang tentu pihak Protokoler Pemprov DKI telah terima surat dari Sesneg mengundang Ahok dengan cara resmi sebagai Gubernur DKI Jakarta untuk berjumpa dengan Raja Salman dalam satu session acara resmi kenegaraan pada tanggal 2 Maret 2017.



Selengkapnya: http://ambigustik.blogspot.com/2017/02/heboh-2-maret-raja-salman-ingin-bertemu.html